Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal
DAYA KASIH KRISTUS KOMUNIKASI
YANG MENYEMBUHKAN
DAN
DETEKSI DINI PENDARAHAN HAMIL MUDA DAN
PENDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
DAYA KASIH KRISTUS
KOMUNIKASI YANG MENYEMBUHKAN
A. PENGERTIAN
AKTIVITAS KASIH KRISTUS DAN LATIHAN
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak
cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang
tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan
tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus 13:4-5) )Sebenarnya kalau
berbicara tentang kasih, ga hanya ada di ayat itu tapi kamu akan banyak
menemukan juga di ayat dan kitab lainnya.
B. KOMUNIKASI
EFEKTIF
Langkah
– langkah membangun komunikasi yang efektif
a. Bertanya
Bertanya
merupakan teknik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaandan
pikirannya.
b. Mendengarkan
Mendengarkan
merupakan dasar utama dalam komunikasi hal ini disebabkan dengan mendengarkan
kita dapat mengolah secara konprehensif semua stimuli dan pesan yang kita
terima, sampai kita dapat memahami dan mengingat dengan cermat pada gilirannya
akan menjadi bekal penting untuk melakukan proses komunikasi yang efektif.
c. Mengulang
Maksud
mengulang yaitu mengulang kembali pikiran utama yang telah
diekspresikan
oleh klien.
d. Klarifikasi
Klarifikasi
adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta
klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya.
e. Refleksi
Refleksi
adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan dan isi pembicaraan pada
klien.
f. Memfokuskan
Langkah
memfokuskan bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah
inti dan mengarahkan komunikasi klien pada mencapaian tujuan, dengan demikian
akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah.
g. Diam (memelihara ketenangan)
Langkah
diam digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab
pertanyaan bidan.
h. Memberi informasi
Memberi
informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien. Agar informasi
dapat diterima dengan baik, perlu kecakapan yang mesti diperhatikan :Gunakan
bahasa yang mudah dimengerti.
Jangan
menggunakan istilah yang tidak dimengerti.
Tidak
perlu tergesa-gesa atau berambisi dalam menyampaikan informasi.
Hindari
kata-kata yang sifatnya mengancam
Ulangi
informasi yang penting.
Gunakan
empati yaitu dapat merasakan apa yang dapat dirasakan
i. Menyimpulkan
Menyimpulkan
adalah teknik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari
interaksi bidan – klien.
DETEKSI DINI PENDARAHAN
HAMIL MUDA
Kondisi yang dapat
menimbulkan tanda bahaya adalah perdarahan, yang dapat dimungkinkan karena
terjadi abortus, dan kehamilan ektopik terganggu (KET) ataupun
molahydatidosa.Namun demikian ketiganya ini mempunyai tanda dan gejala yang
spesifik dan dapat dilihat dalam uraian dibawah ini.
A.
Abortus
1.
Pengertian
abortus
·
Abortus
adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar
kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 22 minggu
namun beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
·
Abortus
adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar
kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin dari 500 gram.
·
Abortus
adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibatakibat tertentu) pada atau
sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu
untuk hidup di luar kandungan (Saifuddin, 2008).
·
Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi
sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat kurang dari 1000 gram atau
usia kehamilan kurang dari 28 minggu
2.
Etiologi
abortus
Penyebab abortus (early
pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.Umumnya lebih dari satu
penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Kelainan
pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi yang dapat mengakibatkan kematian
dan atau dilahirkannya hasil konsepsi dalam keadaan cacat. Faktor-faktor yang
dapat menyebabkan kelainan hasil konsepsi adalah:
·
Kelainan
kromosom
·
Lingkungan
kurang sempurna
·
Pengaruh
dari luar
b. Kelainan pada plasenta
Keadaan ini biasa
terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.Infeksi pada
plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat
berfungsi.Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes melitus.
Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga menimbulkan
keguguran
c. Faktor
maternal
Penyakit-penyakit
maternal dan penggunaan obat: penyakit menyangkut infeksi virus akut, panas
tinggi dan inokulasi, misalnya pada vaksinasi terhadap penyakit cacar nefritis
kronis dan gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia janin.
Kesalahan pada metabolisme asam folat yang diperlukan untuk perkembangan
janin akan mengakibatkan kematian janin.Penyakit infeksi dapat menyebabkan
abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan
lainnya.Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke
janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi abortus.Kelainan
endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol metabolik
pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko
terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan
insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata.
d. Kelainan traktus genetalia
Abnoramalitas uterus yang mengakibatkan kalinan kavum uteri atau
halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus, misalnya fibroid,
malformasi kongenital, prolapsus atau retroversio uteri.Kerusakan pada servik
akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau akibat tindakan pembedahan
(dilatasi, amputasi).
e. Trauma
Tapi biasanya jika
terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya kalau terjadi
orgasmedapat menyebabkan abortus pada
wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali
f. Faktor
– faktor hormonal
Misalnya penurunan
sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia
kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih funngsi
korpus luteum dalam produksi hormon.
3.
Patofisiologi
abortus
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus
desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada
kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta
tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan
lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil
konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil
yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup,
mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
4.
Tanda
dan gejala abortus
a.
Abortus
iminen
·
Perdarahan
flek-flek (bisa sampai beberapa hari)
·
Rasa
sakit seperti saat menstruasi bisa ada atau tidak
·
Serviks
dan OUE masih tertutup
·
PP test
(+)
b.
Abortus
insipien
· Perdarahan
banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah
·
Nyeri hebat disertai kontraksi rahim
·
Serviks atau OUE terbuka dan/atau
ketuban telah pecah
·
Ketuban dapat teraba karena adanya
dilatasi serviks
·
PP test dapat positif atau negative
c.
Abortus
inkomplit
·
Abortus
ini dapat ditandai dengan sakit perut,
·
Terasa
mules,
·
Perdarahan
yang bisa keluar sedikit maupun banyak dan bisa berupa stolsel,
·
Keluar
fetus atau jaringan,
·
Serviks
terbuka.
d.
Abortus
komplit
·
Perdarahan
yang sedikit
·
Ostium
uteri telah menutup
·
Uterus
telah mengecil
e.
Missed
abortion
·
Gejala
subyektif kehamilan menghilang
·
Mammae
agak mengendor lagi
·
Uterus
tidak membesar lagi bahkan mengecil
·
Tes
kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang
·
Dengan
ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan
besarnya sesuai dengan usia kehamilan
·
Perlu
diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai gangguan pembekuan
darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemerikaan kearah ini perlu dilakukan
f.
Abortus
habitualis
·
Kehamilan
triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas
·
Ketuban
menonjol dan pada suatu saat pecah
·
Timbul
mulas yang selanjutnya diikuti dengan melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu
·
Penderita
sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lender dari vagina
·
Diluar
kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan histerosalfingografi
yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm
5.
Komplikasi
abortus
a.
Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.
b.
Perforasi
Perforasi uterus pada saat curretage dapat terjadi terutama pada uterus
dalam posisi hiperretrofleksi.Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan
oleh orang biasa menimbulkan persoalan gawat karena perlakuan uterus biasanya
luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.
c.
Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus
tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan
suatu abortus yang tidak aman (Unsafe Abortion)
d.
Syok
pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi
berat (syok endoseptik).
B.
KEHAMILAN
EKTOPIK TERGANGGU ( KET )
1.
Pengertian
Ket
Kehamilan ektopik yaitu kehamilan dimana tempat implantasi blastosit di
area manapun selain endometrium.
2.
Etiologi
Ket
a.
Faktor
uterus Tumor rahim yang menekan tuba, uterus hipoplastik.
b.
Faktor
tuba
·
Penyempitan
lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing.
·
Tuba sempit,
panjang dan berlekuk-lekuk.
·
Gangguan
fungsi rambut getar (silia) tuba
·
Operasi
dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
·
Endometriosis
tuba
·
Divertikel
tuba dan kelainan kongenital lainnya
·
Perlekatan
peritubal dan lekukan tuba
·
Tumor
lain menekan tuba
·
Lumen
kembar dan sempit
c.
Faktor
ovum
·
Migrasi
eksternal dari ovum
·
Perlekatan
membrane granulosa
·
Rapid
sel devision
·
Migrasi
internal ovum
C.
MOLA
HIDATIDOSA
1.
Pengertian
mola hidatidosa
Merupakan jonjot – jonjot korion yang tumbuh berganda berupa
gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah
anggur, atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang
jinak.Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villi
korialis langka vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan
tetapi villi-villi yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus,
gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah anggur.
2.
Etiologi
mola hidatidosa
·
Faktor
ovum
·
Imunoselektif
dari tropoblast
·
Keadaan
sosio – ekonomi yang rendah
·
Paritas
tinggi
·
Kekurangan
protein
·
Infeksi
virus dan faktor kromosom yang belum jelas
3.
Patofisiologis
mola hidatidosa
Patofisiologis
dari kehamilan mola hidatidosa yaitu karena tidak sempurnanya peredaran darah fetus,
yang terjadi pada sel telur patologik yaitu hasil pembuahan dimana embrionya
mati pada umur kehamilan 3 – 5 minggu dan karena pembuluh darah villi tidak
berfungsi maka terjadi penimbunan di dalam jaringan masenkim villi (Sarwono,
2016).
PERDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
1.
Defenisi
pendarahan antepartum
Pendarahan antepartum adalah pendarah yang
terjadi setelah kehamilan 28 minggu.Biasanya lebih banyak dan
lebih berbahaya daripada pendarahan kehamilan sebelum 28 Minggu.
2.
Klasifikasi pendarahan antepartum
A. PLASENTA
PREVIA
1. Pengertian
plasenta previa
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah
rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagaian dari ostium
uteri internum sehingga plasenta berada di depan jalan lahir (Maryunani dan
Eka, 2013:136).
2. Etiologi plasenta previa
·
Ovum
yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta
terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.
·
Lapisan
rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari
previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi).
·
Hipoplasia
endometrium: bila kawin dan hamil pada umur muda.
·
Korpus
luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
·
Tumor-tumor,
seperti mioma uteri, polip endometrium.
·
Riwayat
seksio sesarea sebelumnya.
·
Plasenta
terbentuk secara tidak normal.
·
Kejadian
plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada
primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang
berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau.
Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi
pembukaan jalan lahir.
·
Ibu merokok atau menggunakan kokain.
·
Ibu
dengan usia lebih tua. Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar
pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20
tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan bertambahnya usia ibu,
terutama setelah usia 35 tahun. Hal ini karena sklerosis pembuluh darah arteli
kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak
merata sehingga plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih
besar, untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat.
3. Tanda dan gejala plasenta previa
·
Pendarahan
tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari
plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja
biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat
fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi
kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
·
Sumber
perdarahan ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari
dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan
tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus
untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagaimana serabut otot
uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya
normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena
itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada
plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.
·
Sering
terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.
·
Bentuk
perdarahan: Sedikit tanpa menimbulkan gejala klinis atau banyak disertai gejala
klinik ibu dan janin.
·
Gejala
klinik ibu:
Tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang.
Terjadi gejala kardiovaskuler dalam bentuk:
Nadi meningkat dan tekanan darah menurun
Anemia
Perdarahan banyak menimbulkan syok sampai kematian
·
Gejala
klinik janin
·
Bagian
terendah belum masuk PAP atau terdapat kelainan letak. Apabila janin dalam
presentasi kepala, kepalanya akan di dapatkan belum masuk ke dalam pintu-atas
panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke samping
karena plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar ditentukan
karena plasenta previa anterior. Tidak jarang terjadi kelainan letak, seperti
letak lintang atau letak sungsang.
·
Perdarahan
mengganggu sirkulasi retroplasenter, menimbulkan asfiksia intra uterin sampai
kematian janin • HB sekitar 5 gr/dl dapat menimbulkan kematian janin dan
ibunya.
B. SOLUSIO PLASENTA
1.
Pengertian
solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya
yang normal pada uterus sebelum janin di lahirkan.Definisi ini berlaku pada
kehamilandengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500gr.
2.
Etiologi
solusio plasenta
Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa faktor yang
menjadi predisposisi:
a.
Faktor
Paritas Ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara.Beberapa
penelitian menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan
endometrium.
b.
Lebih
sering terjadi pada wanita usia > 35 tahun
c.
Lebih
seing terjadi bila terdapat hipertensi
d.
Faktor
trauma
·
Dekompresi
uterus pada hidroamnion dan gemeli.
·
Tarikan
pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi
luar atau tindakan pertolongan persalinan
·
Trauma
langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
e.
Penurunan
cepat ukuran dan tekanan uterus setelah ketuban pecah pada polihidramnion.
f.
Malnutrisi
g.
Tali
pusat pendek
h.
Faktor
kebiasaan merokok Ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas
dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya
i.
Riwayat
solusio plasenta sebelumnya Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis
ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian
ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil
yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta.
3.
Tanda
dan gejala solusio plasenta
a.
Solusio plasenta ringan
·
Perdarahan < 100 – 200 cc
·
Uterus tidak tegang
·
Tidak ada renjatan / syok
·
Janin hidup ( bunyi jantung janin
teratur )
·
Uji beku darah baik, kadar plasma
fibrinogen > 250 mg%
·
Pelepasan plasenta < 1/6 bagian
permukaan
b.
Solusio
plasenta sedang
·
Perdarahan
> 200 cc disertai dengan rasa sakit
·
Uterus
tegang
·
Gawat
janin/ gerakjanin berkurang/ janin telah mati
·
Palpasi
bagian janin sulit diraba
·
Auskultasi
jantung janin dapat terjadi asfiksiaringan dan sedang
·
Ada
tanda presyok/ pra- renjatan
·
Uji
beku darahmasih ada pembekuan, kadar fibrinogen darah 120 – 150 mg%
·
Pelepasan
plasenta 1/ 4 – 2/ 3 bagian permukaan.
·
Pada
pemeriksaan dalam, ketuban menonjol
c.
Solusio plasenta berat
·
Perdarahan banyak sekali pervaginan yang
disertai rasanyeri / perdarahan hebat terselubung/tersembunyi.
·
Uterus sangat tegang dan berkontraksi tetanik,
sakit pada perabaan.
·
Terdapat tandarenjatan/syok dengan TD
menurun, nadi dan pernafasan meningkat.
·
Biasanya janin telah meninggal dalam
uterus.
·
Uji beku darah tidak ada pembekuan,kadar
fibrinogen < 100 mg %.
·
Pelepasan plasenta 2/ 3 bagian permukaan
atau telah terlepas seluruhnya.
4.
Komplikasi
solusio plasenta
·
Syok
pendarahan
·
Gagal
ginjal
·
Kelainan
pembekuan darah
2.1 Pengertian
Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia
Hipertensi adalah masalah medis yang umum ditemui selama
kehamilan. Inilah yang perlu diketahui ibu hamil agar lebih meningkatkan
kesadaran merawat diri. Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) adalah salah
satu penyebab kesakitan dan kematian ibu mau pun janin. Kira-kira 15-25%
wanita yang didiagnosis awal dengan hipertensi dalam kehamilan akan mengalami
Pre-Eklamsia Berat (PEB). Sulit memprediksi yang mana akan mengalami PEB.Dr.
Meutia Ria Octaviana, Sp.OG, M.Kes – Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan
dari Primaya Hospital Tangerang menjelaskan bahwa hipertensi dalam
kehamilan adalah penyakit yang harus diwaspadai. Dengan penanganan yang baik,
hipertensi tidak akan berkembang atau membahayakan, dan dapat hilang setelah
kelahiran. Namun jika dibiarkan, hipertensi saat hamil bisa membahayakan.Hipertensi pada
kehamilan apabila tekanan darahnya ≥140/90 mmHg. Dibagi menjadi ringan-sedang
(140 – 159 / 90 – 109 mmHg) dan berat (≥160/110 mmHg) (Malha et al., 2018).
Hipertensi pada kehamilan dapat digolongkan menjadi:
a. pre-eklampsia/
eclampsia
b. hipertensi kronis
pada kehamilan
c. hipertensi kronis
disertai preeklampsia
d.
hipertensi gestational
Preeklamsia
adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam
urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.Preeklamsia harus diberikan penanganan untuk
mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin.
Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia adalah
ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun atau di bawah 20 tahun.
Eklampsia adalah penyakit akut dengan kejang dan coma pada
wanita hamil dan dalam masa nifas disertai dengan hypertensi oedema dan
proteinuria. (obstetricpatologi,unpad,1984).Eklampsia adalah kelainan akut pada
wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya
kejang (bukan timbul akibat kelianan neurologik) dan atau koma dimana
sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala pre eklampsia.Eklampsia merupakan
kasus akut pada penderita preeclampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan
koma.Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravidae dari pada multiparae.
Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar, hydramnion, mola
hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam
pertama setelah persalinan.
2.2 Etiologi
Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia
Etiologi hipertensi dalam kehamilan beragam, tergantung dari
subtipe hipertensi. Hipertensi kronis yang sekunder dapat disebabkan oleh
beberapa etiologi yakni penyakit parenkimal ginjal (mis. ginjal polikistik),
penyakit vaskular ginjal (mis.stenosi arteri ginjal, displasia fibromuskuler),
gangguan endokrin (mis.kelebihan adrenokortikosteroid atau mineralokortikoid,
feokromositoma, hipertiroidisme atau hipotiroidisme, kelebihan hormon
pertumbuhan, hiperparatiroidisme), koarktasio aorta, atau
penggunaan kontrasepsi oral. Faktor risiko dari
hipertensi dalam kehamilan di antaranya:
·
Riwayat hipertensi pada keluarga
·
Riwayat hipertensi kronis sebelumnya
·
Diabetes
·
Nuliparitas
·
Obesitas
Etiologi Preeklamsia
Penyebab preeklamsia masih
belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini
disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang
berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.
Kelainan tersebut
menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari
tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu
hamil dan janin.
Meskipun penyebabnya belum
diketahui, sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada
plasenta:
·
Pernah
atau sedang menderita diabetes, hipertensi, penyakit ginjal, penyakit autoimun, dan gangguan darah
·
Pernah
mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
·
Baru
pertama kali hamil
·
Hamil
lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya
·
Hamil
di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
·
Mengandung
lebih lebih dari satu janin
·
Mengalami
obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2
·
Kehamilan
yang sedang dijalani merupakan hasil metode bayi tabung (in vitro fertilization)
·
Ada
riwayat preeklamsia dalam keluarga
Diagnosis
Preeklamsia
Dokter akan menanyakan
keluhan dan gejala yang dialami ibu hamil, serta riwayat kesehatan ibu hamil
dan keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh,
termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh,
pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, serta kondisi kandungan. Jika
tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan
jeda waktu 4 jam, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut untuk
memastikan diagnosis preeklamsia:
·
Tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine
·
Tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan
jumlah trombosit darah
·
Ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin
·
USG
Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta
·
Nonstress test (NST) dengan cardiotocography
atau CTG, untuk mengukur
detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan
Penyebab Eklamsia
Hingga saat ini, penyebab
terjadinya preeklamsia dan eklamsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga
kondisi ini diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta.
Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko preeklamsia dan
eklamsia pada ibu hamil adalah:
·
Memiliki
riwayat menderita preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
·
Sedang
menjalani kehamilan pertama atau memiliki jarak antar kehamilan yang terlalu
dekat (kurang dari 2 tahun)
·
Memiliki
riwayat hipertensi kronis atau hipertensi dalam
kehamilan
·
Hamil
pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
·
Mengalami
kondisi dan penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabit, obesitas, serta penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid (APS)
·
Kondisi
tertentu dalam kehamilan, seperti mengandung lebih dari satu janin atau hamil
dengan program bayi tabung (IVF)
Diagnosis Eklamsia
Dalam mendiagnosis
eklamsia, dokter akan menanyakan kepada keluarga yang membawa ibu hamil ke
rumah sakit tentang kejang yang dialami, termasuk riwayat pemeriksaan
kehamilan, penyakit, dan preeklampsia sebelumnya.
Setelah itu, dokter akan
melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan apakah kondisi ibu
hamil dan janin dalam keadaan stabil.
Untuk memastikan eklampsia
dan kerusakan organ yang sudah terjadi, akan dilakukan pemeriksaan penunjang
berikut:
·
Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah secara
keseluruhan
·
Tes urin, untuk memeriksa keberadaan dan kadar
protein di urin
·
Tes fungsi hati, untuk mendeteksi kerusakan fungsi hati
·
Tes fungsi ginjal, termasuk ureum dan kreatin, untuk
mengetahui kadar kreatin di ginjal dan mendeteksi adanya kerusakan ginjal
·
Ultrasonografi (USG), untuk memastikan kondisi janin
dalam keadaan sehat
2.3 Tanda
Dan Gejala Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia
Umumnya, hipertensi biasa tidak selalu menunjukkan tanda-tanda dan
gejala tertentu.
Pada kasus hipertensi gestasional, tanda-tanda dan gejala pada setiap
penderita mungkin akan berbeda, tetapi gejala akan muncul saat kehamilan sedang
berlangsung.
Tanda-tanda dan gejala yang
utama tentunya adalah:
·
Tekanan darah tinggi pada saat usia kandungan di
atas 20 minggu
o Tidak ada protein di dalam
urine (proteinuria)
o Pusing
o Berat badan naik secara
tidak wajar
o Penglihatan kabur atau
buram
o Mual dan muntah berlebihan
o Sakit di bagian kanan atas
perut
o Buang air kecil semakin
sedikit
Gejala Preeklamsia
dan Eklamsia
Gejala Preeklampsia biasanya tanda-tanda Preeklampsia
timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema,
hipertensi, dan akhirnya proteinuria.
1) Preeklampsia
ringan :
a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolic
15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu
kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal.
b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau
kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstearm
2) Preeklampsia berat
:
a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih
b) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam
atau kualitatif 3+ atau 4+.
c) Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per
24 jam.
d) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan
rasa nyeri di epigastrium.
e) Terdapat edema paru dan sianosis
f) Trombositopenig (gangguan fungsi hati)
g) Pertumbuhan janin terhambat.
Gejala eklampsia
Pada umumnya kejanga didahului oleh makin memburuknya
Preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal,
gangguan penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Bila
keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejangan
terutama pada persalinan bahaya ini besar.
2.4 Komplikasi
Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia
Komplikasi
yang terberat adalah kematian ibu dan janin.Komplikasi dibawahini biasanya
terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia.
a.
Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensiakut
dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia.
b.
Hipofibrinogenemia. Pada Preeklampsia berat
c.
Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkangejala
klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus.Belum di ketahui dengan pasti
apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darahmerah.
Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia
dapat menerangkan ikterus tersebut.
d.
Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematianmaternal
penderita eklampsia.
e.
Kelainan mata, Kehilanganpenglihatan untuk sementara, yang
berlansungsampaiseminggu.
f.
Edema paru-paru.
g.
Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi – eklampsia merupakan
akibat vasopasmus arteriol umum.
h.
Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.
i.
Kelainan ginjal
j.
Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh
akibatkejang-kejang pneumonia aspirasi.
k.
Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra – uterin.
2.5.
Pencegahan Hipertensi, Preeklamsia Dan
Eklamsia
Mencegah
Hipertensi pada Ibu Hamil
Meski
pada beberapa kondisi hipertensi pada ibu hamil sulit dicegah, ada beberapa
upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut. Berikut di
antaranya:
1.Ketahui
Tingkat Tekanan Darah sebelum Hamil
Penting
untuk mengetahui berapa tingkat tekanan darah yang dimiliki, sejak sebelum
hamil. Jadi, saat sedang program hamil, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan
kesehatan, atau sekadar cek tekanan darah. Dengan begitu, kamu bisa tahu kapan
tekanan darah sudah mulai tinggi dan harus berhati-hati.
2.Kurangi
Asupan Garam
Asupan
garam atau natrium yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Jika kamu
biasanya menaburkan garam di setiap hidangan, sebaiknya segera hentikan
kebiasaan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan batas aman
konsumsi garam per harinya 1 sendok teh atau 2.400 miligram.
Selain
pada masakan, perhatikan juga kandungan garam pada setiap makanan kemasan dan
olahan. Terutama makanan olahan, yang biasanya sudah mengandung garam atau
natrium dalam jumlah yang besar.
3.Olahraga Rutin
Sejak program hamil, atau jauh sebelumnya,
penting untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas. Jika sudah hamil, tanyakan
kepada dokter tentang bagaimana memulai program olahraga teratur, termasuk apa
saja jenis olahraga yang boleh dilakukan.
Wanita yang tidak banyak bergerak cenderung
menambah berat badan, yang dapat meningkatkan risiko hipertensi selama
kehamilan, juga sebelum dan sesudahnya. Jadi, cobalah untuk mulai menerapkan
gaya hidup sehat dan aktif sebelum memulai kehamilan.
4.Perhatikan
Obat-obatan yang Dikonsumsi
Pastikan kamu tidak minum obat yang dapat
meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya selalu tanyakan kepada dokter untuk
mengetahui obat apa yang aman. Pikirkan dua kali untuk menggunakan obat apa pun
kecuali dokter menyarankan. Agar lebih mudah, kamu juga bisa download aplikasi Halodoc untuk
berkonsultasi pada dokter tentang penggunaan
obat.
5.Jalani Pemeriksaan
Prenatal Rutin
Jika tekanan darah mulai meningkat selama
kehamilan, ibu hamil perlu mengetahuinya lebih awal. Pastikan untuk menepati
semua jadwal kontrol kehamilan dan pertimbangkan untuk membeli monitor tekanan
darah rumah untuk memeriksa tekanan darah lebih sering di rumah.
6.Hindari Rokok dan
Alkohol
Tembakau dan alkohol tidak aman untuk janin dan
dapat meningkatkan risiko hipertensi pada ibu hamil. Jadi, pastikan untuk
menghindari dua hal ini selama kehamilan, agar terhindar dari risiko gangguan
kesehatan serius, ya.
Jika kamu sudah memiliki tekanan darah tinggi,
bicarakan dengan dokter tentang penggunaan obat sebelum dan selama kehamilan.
Sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan stabil sebelum hamil,
karena sembilan bulan kehamilan bukanlah waktu terbaik untuk mencoba obat baru
atau tambahan.
a.
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali
tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan
yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
b.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada
faktor-faktor predeposisi.
c.
Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet bergunadalam pencegahan.
Istirahat tidakselalu berarti berbaring ditempat tidur,namun pekerjaan
sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring.
Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat
badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
d.
Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tandaPreeklampsia dan mengobatinya segera
apabila di temukan.
e. Mengakhiri
kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah
dirawat tanda – tanda Preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.
KEHAMILAN GANDA
1.
Pengertian :
Kehamilan
ganda adalah
kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan ganda adalah bila proses
fertilisasi menghasilkan janin lebih dari satu. Kehamilan ganda merupakan
dimana terdapat dua atau lebih embrio atau janin sekaligus, kehamilan ganda
terjadi apabila dua atau lebih ovum dilepaskan dan dibuahi atau bila satu ovum
yang dibuahi membelah secara dini hingga membentuk dua embrio yang sama pada
stadium massa sel dalam atau lebih awal.
Kelainan Letak
1. Letak sungsang
a. Pengertian
Persalinan letak
sungsang adalah persalinan pada bayi dengan presentasi bokong
(sungsang) dimana
bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri,
sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuaba, 1988).
Gambar 4.
Macam-macam Letak Sungsang
Pada letak kepala, kepala yang merupakan
bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian
terbesar bayi akan lahir
terakhir. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala
yang rapat dan padat, sehingga hanya
mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme
maulage dapat menimbulkan
kematian bayi yang besar.
2. Etiologi
Kehamilan ini dipengaruhi oleh beberapa factor;
Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah : bangsa, umur dan paritas sering
mempengaruhi kehamilan 2 telur
2.
Factor umur dan faritas
a. Untuk peningkatan usia sampai sekitar 40 tahun atau paritas sampai dengan 7,
frekuensi kehamilan ganda akan meningkat.
b. Kehamilan ganda dapat terjadi kurang dari sepertiga pada wanita 20 tahun
tanpa riwayat kelahiran anak sebelumnya, bila dibandingkan dengan wanita yang
berusia diantara 35-40 tahun dengan 4 anak atau lebih.
c. Di Swedia, petterson dkk (1976), memastikan peningkatan yang nyata pada
angka kehamilan ganda yang berkaitan dengan meningkatnya paritas.
d. Dalam kehamilan pertama, frekuensi janin kembar adalah 1,3% dibandingkan
dengan kehamilan ke-4 sebesar 2,7%.
3. Factor
Keturunan
4. Factor nutrisi
a. Nylander (1971) mengatakan bahwa peningkatan kehamilan ganda berkaitan
dengan BB ibu. Ibu yang lebih tinggi dan berbadan besar mempunyai resiko hamil
ganda sebesar 25-30% dibandingkan dengan ibu yang lebih pendek dan berbadan
kecil.
b. McGillivray (1986) juga memaparkan bahwa kehamilan dizigotik lebih sering
ditemui pada wanita berbadan besar dan tinggi dibandingkan pada wanita pendek
dan bertubuh kecil.
5. Factor terapi infertilitas
a. Induksi ovulasi dengan menggunakan FSH plus chorionic gonadrotopin atau
chlomiphene citrate menghasilkan ovulasi ganda.
b. Insiden kehamilan ganda seiring penggunaan gonadotropin sebesar 16-40%,75%
kehamilan sengan dua janin. (Schenker, 1981)
c. Tuppin dkk (1993) melaporkan dari Prancis, insiden persalinan gemelli dan
triplet terjadi karena induksi ovulasi terapi human menopause gonadrotopin
(hMG).
d. Faktor resiko untuk kehamilan ganda setelah ovarium distimulasi denganh hMG
berpengaruh terhadap peningkatan jumlah estradiol dan injeksi chorionic
gonadrotopin pada saat bersamaan akan berpengaruh terhadap karasteristik
sperma, meningkatkan konsentrasi dan motilitas sperma. (Dickey, 1992)
e. Induksi ovulasi meningkatkan insiden kehamilan ganda dizigotik dan
monozigotik.
6. Factor assistend reproductive technology (ART)
a. Tekhnik ART didesain untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan, dan juga
meningkatkan kemungkinan kehamilan ganda. Pasien pada kasus ini, pembuahan
dilakukan elalui teknik fertilisasi in vitro dengan melakukan seleksi terhadap
ovum yang benar-benar berkualitas baik, dan dua dari empat embrio ditransfer
kedalam uterus.
b. Pada umumnya, sejumlah embrio yang ditransfer kedalam uterus maka sejumlah
itulah akan beresiko kembar dan meningkatkan kehamilan ganda.
Jenis-jenis
dari kehamilan ganda
1. Kehamilan kembar monozigotik
Merupakan kehamilan ganda yang berasal dari satu ovum yang dibuahi dan membelah
secara dini dan membentuk dua embrio yang sama, kehamilan ini juga disebut
hamil kembar identik atau hamil kembar homolog atau hamil kembar uniovuler,
karena berasal dari satu ovum.
Cirri-cirinya adalah
a. Jenis kelamin sama
b. Rupanya sama/ memiiki wajah yang sama (seperti bayangan)
c. Golongan darah sama, cap kaki dan tangan sama
d. Sebagian atau kira-kira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik, mempunyai 2
amnion, 2 karion, dan 2 plasenta; kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Keadaan
ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. 2/3 mempunyai 1 plasenta, 1
korion, dan atau 2 amnion. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih
sangat tinggi.
e. Pada kembar monozigotik dapat terjadi kelainan pertumbuhan seperti kembar
siam dan insiden kelainan malformasi masih tinggi.
2. Kehamilan kembar dizigotik
Merupakan kehamilan ganda yang berasal dari 2 atau lebih ovum yang telah dibuahi,
sebagian besar kehamilan ganda adalah dizigotik atau kehamilan kembar
fraternal.
Cirri-cirinya adalah :
a. Jenis kelamin dapat sama atau berbeda
b. Persamaan seperti adik kakak
c. Golongan darah tidak sama
d. Cap tangan dan kaki tidak sama
e. Sebagian atau kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang mempunyai
2 plasenta, 2 korion dan 2 aamnion dan 2 amnion,2 korion, 1 plasenta.
3. Kembar Superkundasi
Kembar ini terjadi karena pembuahan dua sel telur atau
lebih oleh sperma dalam siklus haid yang sama dari hubungan seks yang berbeda
waktu. Dengan begitu, sangat mungkin jika ada dua pria yang menghamili satu
wanita dan menghasilkan bayi kembar fraternal. Jadi, masing-masing pria itu
menghasilkan satu bayi yang tumbuh bersama di rahim satu wanita, dan akan lahir
di waktu yang sama. Istilah lebih tepatnya adalah heteropaternal
superfekundasi.
4. Kembar Superfetasi
Pada kasus ini, janin baru terbentuk ketika di dalam
rahim sudah ada janin dari pembuahan sebelumnya. Memang hampir sama dengan kembar
fraternal, hanya saja kembar superfetasi berasal dari dua sel telur dari siklus
haid yang berbeda. Saat periksa kandungan bisa terlihat kalau dua janin ini
memiliki perkembangan yang berbeda
3. Tanda
Dan Gejala Yang Mengindikasikan Kehamilan Kembar
Tanda dan gejala kehamilan ganda
a. Ukuran uterus,
tinggi fundus uterus (TFU) dan lingkar abdomen melebihi ukuran
yang seharusnya
untuk usia kehamilan akibat pertumbuhan uterus yang pesat
pada trimester dua.
b. Mual dan muntah
berat (akibat peningkatan kadar HCg)
c. Adanya riwayat
kembar dalam keluarga
d. Riwayat
penggunaan obat penyubur sel telur
e. Pada palpasi
abdomen didapatkan tiga atau lebih bagian besar dan/atau banyak
bagian kecil yang
semakin mudah diraba terutama trimester ketiga
f. Pada auskultasi
ditemukan lebih dari satu bunyi denyut jantung janin yang jelas
berbeda (berbeda
>10 denyut jantung per menit dan terpisah dari jantung ibu).
4. Komplikasi Kehamilan Gemelli
Dibandingkan dengan kehamilan tunggal,
kehamilan multipel lebih mungkin terkait dengan banyak komplikasi kehamilan.
Komplikasi obstetrik yang sering didapatkan pada kehamilan kembar meliputi
polihidramnion, hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan ketuban pecah dini,
presentasi janin abnormal, dan prolaps tali pusat. Secara umum, komplikasi
tersebut dapat dicegah dengan perawatan antenatal yang baik
Menurut Hartono, dkk (2006:852-897) beberapa
komplikasi yang dapat terjadi pada janin yang dilahirkan pada kehamilan kembar
diantaranya adalah:
a. Prematuritas Janin dari kehamilan multipel
cenderung dilahirkan preterm dan kebanyakan memerlukan perawatan pada neonatal
intensive care unit (NICU). Sekitar 50 persen kelahiran kembar terjadi sebelum
usia kehamilan 37 minggu. Lamanya kehamilan akan semakin pendek dengan
bertambahnya jumlah janin di dalam uterus. Sekitar 20% bayi dari kehamilan
multipel merupakan bayi dengan berat lahir rendah.
b. Hyalin Membrane Disease (HMD) Bayi kembar yang
dilahirkan sebelum usia kehamilan 35 minggu dua kali lebih sering menderita HMD
dibandingkan dengan bayi tunggal yang dilahirkan pada usia kehamilan yang sama.
HMD atau yang dikenal sebagai Respiratory Distres Syndrom (RDS) adalah penyebab
tersering dari gagal nafas pada bayi prematur. Terjadi segera setelah atau
beberapa saat setelah bayi lahir. Ditandai dengan sukar bernafas, cuping
hidung, retraksi dinding dada dan sianosis yang menetap dalam 48-96 jam pertama
kehidupan. Prevalensi HMD didapatkan lebih tinggi pada kembar monozigotik
dibandingkan dengan kembar dizigotik. Bila hanya satu bayi dari sepasang bayi
kembar yang menderita HMD, maka bayi kedua lebih cenderung menderita HMD
dibandingkan dengan bayi pertama.
c. Asfiksia saat Kelahiran/Depresi Napas Perinatal
Bayi dari kehamilan multipel memiliki peningkatan frekuensi untuk mengalami
asfiksia saat kelahiran atau depresi perinatal dengan berbagai sebab. Prolaps
tali pusat, plasenta previa, dan ruptur uteri dapat terjadi dan menyebabkan
asfiksia janin. Kejadian cerebral palsy 6 kali lebih tinggi pada bayi kembar
dua dan 30 kali lebih sering pada bayi kembar tiga dibandingkan dengan janin
tunggal. Bayi kedua pada kehamilan kembar memiliki resiko asfiksia saat
lahir/dpresi napas perinatal lebih tinggi.
d. Infeksi Streptococcus group B Infeksi onset cepat
Streptococcus group B pada bayi berat lahir rendah adalah 5 kali lebih tinggi
dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan tunggal dengan berat badan yang sama.
e. Vanishing Twin Syndrome Kemajuan teknologi
ultrasonografi memungkinkan dilakukannya studi sonografik pada awal gestasi
yang memperlihatkan bahwa insiden kembar trimester pertama jauh lebih tinggi
daripada insiden kembar saat lahir. Kehamilan kembar sekarang diperkirakan
terjadi pada 12 persen di antara semua konsepsi spontan, tetapi hanya 14 persen
di antaranya yang bertahan sampai aterm. Pada sebagian kasus, seluruh kehamilan
lenyap, tetapi pada banyak kasus, satu janin yang meninggal atau sirna (vanish)
dan kehamilan berlanjut sebagai kehamilan tunggal. Pada 21-63% konsepsi kembar meninggal atau sirna (vanish) pada
trimester kedua. Keadaan ini dapat menyebabkan kelainan genetik atau kelainan
neurologik/defek neural tube pada janin yang tetap bertahan hidup.
f. Kelainan Kongenital/Akardia/Rangkaian Perfusi Balik
Arteri pada Janin Kembar (twin reverse-arterial-perfusion/TRAP) Pada plasenta
monokorionik, vaskularisasi janin biasanya tergabung, kadang-kadang amat
kompleks. Anastomosis vaskular pada plasenta monokorionik dapat dari arteri ke
arteri, vena ke vena atau arteri ke vena. Biasanya cukup berimbang dengan baik
sehingga tidak ada salah satu janin yang menderita. Pada TRAP terjadi pirau
dari arteri ke arteri plasenta, yang biasanya diikuti dengan pirau vena ke
vena. Tekanan perfusi pada salah satu kembar mengalahkan yang lain, yang
kemudian mengalami pembalikan aliran darah dari kembarannya. Darah arteri yang
sudah terpakai dan mencapai kembar resipien cenderung mengalir ke
pembuluh-pembuluh iliaka sehingga hanya memberi perfusi bagian bawah tubuh dan
menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan tubuh bagian atas. Gangguan
atau kegagalan pertumbuhan kepala disebut akardius asefalus. Kepala yang tumbuh
parsial dengan alat gerak yang masih dapat diidentifikasi disebut akardius
mielasefalus. Kegagalan pertumbuhan semua struktur disebut akardius amorfosa.
g. Twin-to-twin Transfusion Syndrome Darah
ditransfusikan dari satu kembaran (donor) ke dalam vena kembaran lainnya
(resipien) sedemikian rupa sehingga donor menjadi anemik dan pertumbuhannya
terganggu, sementara resipien menjadi polisitemik dan mungkin mengalami
kelebihan beban sirkulasi yang bermanifestasi sebagai hidrops fetalis. Menurut
ketentuan, terdapat perbedaan hemoglobin 5 g/dl dan 20% berat badan pada
sindrom ini. Kematian kembar donor dalam uterus dapat mengakibatkan trombus
fibrin di seluruh arteriol yang lebih kecil milik kembar resipien. Hal ini
kemungkinan diakibatkan oleh transfusi darah yang kaya tromboplastin dari janin
donor yang mengalami maserasi. Kembar yang bertahan hidup mengalami koagulasi
intravaskular diseminata.
h. Kembar Siam Apabila pembentukan kembar dimulai
setelah cakram mudigah dan kantung amniom rudimenter sudah terbentuk dan
apabila pemisahan cakram mudigah tidak sempurna, akan terbentuk kembar
siam/kembar dempet.
Terdapat
beberapa jenis kembar siam, yaitu:
1) Thoracopagus, bila kedua tubuh bersatu di bagian
dada (30-40%). Jantung selalu terlibat dalam kasus ini. Bila jantung hanya
satu, harapan hidup baik dengan atau tanpa operasi adalah rendah.
2) Omphalopagus, bila kedua tubuh bersatu di bagian
perut (34%). Umumnya masing-masing tubuh memiliki jantung masing- masing, tetapi kembar siam ini biasanya hanya memiliki
satu hati, sistem pencernaan, dan organ-organ lain.
3) Xyphopagus, bila kedua tubuh bersatu di bagian
xiphoid cartilage.
4) Pyopagus (iliopagus), bila bersatu di bagian
belakang (19%).
5) Cephalopagus/craniopagus, bila bersatu di bagian
kepala dengan tubuh terpisah.
i. Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) Pada
kehamilan kembar, pertumbuhan dan perkembangan salah satu atau kedua janin
dapat terhambat. Semakin banyak jumlah janin yang terbentuk, maka kemungkinan
terjadinya IUGR semakin besar.
5. Pencengahan dalam
Kehamilan
Untuk kepentingan ibu dan janin perlu diadakan
pencegahan terhadap pre-eklamsia dan eklamsia, partus prematurus dan anemia.
Pemeriksaan antenatal perlu diadakan lebih sering. Sehingga tanda-tanda
pre-eklamsia dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan
segera. Menurut Varney (2004:661) pemeriksaan antenatal dapat dilakukan antara
lain:
a. Pemeriksaan
kehamilan setiap 2 minggu pada usia kehamilan 34 – 36 minggu
b. Pemeriksaan kehamilan setiap minggu pada usia
kehamilan >36 minggu 28
c. Pertumbuhan janin dipantau dengan USG setiap 3 – 4
minggu yang dimulai pada usia kehamilan 20 minggu Istirahat baring dianjurkan
lebih banyak karena hal itu menyebabkan aliran darah ke plasenta meningkat,
sehingga pertumbuhan janin lebih baik. Penanganan dalam Kehamilan Mochtar
(2012:264) 1) Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan
mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan
pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1× seminggu pada kehamilan lebih dari
32 minggu) 2) Setelah kehamilan 30 minggu, koltus dan perjalanan jauh sebaiknya
dihindari, karena akan merangsang partus prematurus. 3) Pemakaian korset gurita
pada perut yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan.
4) Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.
Komentar
Posting Komentar