Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

DAYA KASIH KRISTUS  KOMUNIKASI YANG MENYEMBUHKAN

DAN

DETEKSI DINI PENDARAHAN HAMIL MUDA  DAN PENDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN

           

DAYA KASIH KRISTUS KOMUNIKASI YANG MENYEMBUHKAN

A.   PENGERTIAN AKTIVITAS KASIH KRISTUS DAN LATIHAN

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus 13:4-5) )Sebenarnya kalau berbicara tentang kasih, ga hanya ada di ayat itu tapi kamu akan banyak menemukan juga di ayat dan kitab lainnya.

B.    KOMUNIKASI EFEKTIF

Langkah – langkah membangun komunikasi yang efektif

a.     Bertanya

Bertanya merupakan teknik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaandan pikirannya.

b.     Mendengarkan

Mendengarkan merupakan dasar utama dalam komunikasi hal ini disebabkan dengan mendengarkan kita dapat mengolah secara konprehensif semua stimuli dan pesan yang kita terima, sampai kita dapat memahami dan mengingat dengan cermat pada gilirannya akan menjadi bekal penting untuk melakukan proses komunikasi yang efektif.

c.     Mengulang

Maksud mengulang yaitu mengulang kembali pikiran utama yang telah

diekspresikan oleh klien.

d.     Klarifikasi

Klarifikasi adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya.

e.     Refleksi

Refleksi adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan dan isi pembicaraan pada klien.

f.      Memfokuskan

Langkah memfokuskan bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah inti dan mengarahkan komunikasi klien pada mencapaian tujuan, dengan demikian akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah.

g.     Diam (memelihara ketenangan)

Langkah diam digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan bidan.

h.     Memberi informasi

Memberi informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien. Agar informasi dapat diterima dengan baik, perlu kecakapan yang mesti diperhatikan :Gunakan bahasa yang mudah dimengerti.

Jangan menggunakan istilah yang tidak dimengerti.

Tidak perlu tergesa-gesa atau berambisi dalam menyampaikan informasi.

Hindari kata-kata yang sifatnya mengancam

Ulangi informasi yang penting.

Gunakan empati yaitu dapat merasakan apa yang dapat dirasakan

i.      Menyimpulkan

Menyimpulkan adalah teknik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari interaksi bidan – klien.

 

DETEKSI DINI PENDARAHAN HAMIL MUDA

Kondisi yang dapat menimbulkan tanda bahaya adalah perdarahan, yang dapat dimungkinkan karena terjadi abortus, dan kehamilan ektopik terganggu (KET) ataupun molahydatidosa.Namun demikian ketiganya ini mempunyai tanda dan gejala yang spesifik dan dapat dilihat dalam uraian dibawah ini.

A.    Abortus

1.     Pengertian abortus

·      Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 22 minggu namun beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

·      Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin dari 500 gram.

·      Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibatakibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan (Saifuddin, 2008).

·      Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat kurang dari 1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu

2.     Etiologi abortus

Penyebab abortus (early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai berikut:

a.     Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi yang dapat mengakibatkan kematian dan atau dilahirkannya hasil konsepsi dalam keadaan cacat. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kelainan hasil konsepsi adalah:

·       Kelainan kromosom

·       Lingkungan kurang sempurna

·       Pengaruh dari luar

b.     Kelainan pada plasenta

Keadaan ini biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak dapat berfungsi.Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes melitus. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga menimbulkan keguguran

c.     Faktor maternal

Penyakit-penyakit maternal dan penggunaan obat: penyakit menyangkut infeksi virus akut, panas tinggi dan inokulasi, misalnya pada vaksinasi terhadap penyakit cacar nefritis kronis dan gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia janin.

Kesalahan pada metabolisme asam folat yang diperlukan untuk perkembangan janin akan mengakibatkan kematian janin.Penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan lainnya.Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi abortus.Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata.

d.     Kelainan traktus genetalia

Abnoramalitas uterus yang mengakibatkan kalinan kavum uteri atau halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus, misalnya fibroid, malformasi kongenital, prolapsus atau retroversio uteri.Kerusakan pada servik akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau akibat tindakan pembedahan (dilatasi, amputasi).

e.     Trauma

Tapi biasanya jika terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya kalau terjadi orgasmedapat  menyebabkan abortus pada wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali

f.      Faktor – faktor hormonal

Misalnya penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus pada usia kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih funngsi korpus luteum dalam produksi hormon.

3.     Patofisiologi abortus

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya.Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.

4.     Tanda dan gejala abortus

a.     Abortus iminen

·       Perdarahan flek-flek (bisa sampai beberapa hari)

·       Rasa sakit seperti saat menstruasi bisa ada atau tidak

·       Serviks dan OUE masih tertutup

·       PP test (+)

b.     Abortus insipien

·       Perdarahan banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah

·       Nyeri hebat disertai kontraksi rahim

·       Serviks atau OUE terbuka dan/atau ketuban telah pecah

·       Ketuban dapat teraba karena adanya dilatasi serviks

·       PP test dapat positif atau negative

c.     Abortus inkomplit

·       Abortus ini dapat ditandai dengan sakit perut,

·       Terasa mules,

·       Perdarahan yang bisa keluar sedikit maupun banyak dan bisa berupa stolsel,

·       Keluar fetus atau jaringan,

·       Serviks terbuka.

d.     Abortus komplit

·       Perdarahan yang sedikit

·       Ostium uteri telah menutup

·       Uterus telah mengecil

e.     Missed abortion

·       Gejala subyektif kehamilan menghilang

·       Mammae agak mengendor lagi

·       Uterus tidak membesar lagi bahkan mengecil

·       Tes kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang

·       Dengan ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan

·       Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemerikaan kearah ini perlu dilakukan

f.      Abortus habitualis

·       Kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas

·       Ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah

·       Timbul mulas yang selanjutnya diikuti dengan melakukan pemeriksaan vaginal tiap minggu

·       Penderita sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lender dari vagina

·       Diluar kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan histerosalfingografi yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm

5.     Komplikasi abortus

a.     Pendarahan

Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.

b.     Perforasi

Perforasi uterus pada saat curretage dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi.Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang biasa menimbulkan persoalan gawat karena perlakuan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.

c.     Infeksi

Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (Unsafe Abortion)

d.     Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).

B.    KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU ( KET )

1.     Pengertian Ket

Kehamilan ektopik yaitu kehamilan dimana tempat implantasi blastosit di area manapun selain endometrium.

2.     Etiologi Ket

a.     Faktor uterus Tumor rahim yang menekan tuba, uterus hipoplastik.

b.     Faktor tuba

·       Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing.

·       Tuba sempit, panjang dan berlekuk-lekuk.

·       Gangguan fungsi rambut getar (silia) tuba

·       Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna

·       Endometriosis tuba

·       Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainnya

·       Perlekatan peritubal dan lekukan tuba

·       Tumor lain menekan tuba

·       Lumen kembar dan sempit

c.     Faktor ovum

·       Migrasi eksternal dari ovum

·       Perlekatan membrane granulosa

·       Rapid sel devision

·       Migrasi internal ovum

C.    MOLA HIDATIDOSA

1.     Pengertian mola hidatidosa

Merupakan jonjot – jonjot korion yang tumbuh berganda berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur, atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma trofoblas yang jinak.Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan ciri-ciri stroma villi korialis langka vaskularisasi, dan edematus. Janin biasanya meninggal, akan tetapi villi-villi yang membesar dan edematus itu hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah anggur.

2.     Etiologi mola hidatidosa

·      Faktor ovum

·      Imunoselektif dari tropoblast

·      Keadaan sosio – ekonomi yang rendah

·      Paritas tinggi

·      Kekurangan protein

·      Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas

3.     Patofisiologis mola hidatidosa

Patofisiologis dari kehamilan mola hidatidosa yaitu karena tidak sempurnanya peredaran darah fetus, yang terjadi pada sel telur patologik yaitu hasil pembuahan dimana embrionya mati pada umur kehamilan 3 – 5 minggu dan karena pembuluh darah villi tidak berfungsi maka terjadi penimbunan di dalam jaringan masenkim villi (Sarwono, 2016).

 

PERDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN

1.     Defenisi pendarahan antepartum

Pendarahan antepartum adalah pendarah yang terjadi setelah kehamilan 28 minggu.Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada pendarahan kehamilan sebelum 28 Minggu.

2.     Klasifikasi pendarahan antepartum

A.   PLASENTA PREVIA

1.     Pengertian plasenta previa

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagaian dari ostium uteri internum sehingga plasenta berada di depan jalan lahir (Maryunani dan Eka, 2013:136).

2.     Etiologi plasenta previa

·       Ovum yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan plasenta terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.

·       Lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau aborsi).

·       Hipoplasia endometrium: bila kawin dan hamil pada umur muda.

·       Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.

·       Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium.

·       Riwayat seksio sesarea sebelumnya.

·       Plasenta terbentuk secara tidak normal.

·       Kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara daripada primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi yang berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau. Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi pembukaan jalan lahir.

·        Ibu merokok atau menggunakan kokain.

·       Ibu dengan usia lebih tua. Risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di bawah usia 20 tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan bertambahnya usia ibu, terutama setelah usia 35 tahun. Hal ini karena sklerosis pembuluh darah arteli kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah ke endometrium tidak merata sehingga plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas permukaan yang lebih besar, untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat.

3.     Tanda dan gejala plasenta previa

·       Pendarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.

·       Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.

·       Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.

·       Bentuk perdarahan: Sedikit tanpa menimbulkan gejala klinis atau banyak disertai gejala klinik ibu dan janin.

·       Gejala klinik ibu:

Tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang.

Terjadi gejala kardiovaskuler dalam bentuk:

Nadi meningkat dan tekanan darah menurun

Anemia

Perdarahan banyak menimbulkan syok sampai kematian

·       Gejala klinik janin

·       Bagian terendah belum masuk PAP atau terdapat kelainan letak. Apabila janin dalam presentasi kepala, kepalanya akan di dapatkan belum masuk ke dalam pintu-atas panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke samping karena plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar ditentukan karena plasenta previa anterior. Tidak jarang terjadi kelainan letak, seperti letak lintang atau letak sungsang.

·       Perdarahan mengganggu sirkulasi retroplasenter, menimbulkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin • HB sekitar 5 gr/dl dapat menimbulkan kematian janin dan ibunya.

B.    SOLUSIO PLASENTA

1.     Pengertian solusio plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin di lahirkan.Definisi ini berlaku pada kehamilandengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin diatas 500gr.

2.     Etiologi solusio plasenta

Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa faktor yang menjadi predisposisi:

a.     Faktor Paritas Ibu

Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara.Beberapa penelitian menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium.

b.     Lebih sering terjadi pada wanita usia > 35 tahun

c.     Lebih seing terjadi bila terdapat hipertensi

d.     Faktor trauma

·      Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.

·      Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan pertolongan persalinan

·      Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.

e.     Penurunan cepat ukuran dan tekanan uterus setelah ketuban pecah pada polihidramnion.

f.      Malnutrisi

g.     Tali pusat pendek

h.     Faktor kebiasaan merokok Ibu yang perokok plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya

i.      Riwayat solusio plasenta sebelumnya Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta.

3.     Tanda dan gejala solusio plasenta

a.     Solusio plasenta ringan

·      Perdarahan < 100 – 200 cc

·      Uterus tidak tegang

·      Tidak ada renjatan / syok

·      Janin hidup ( bunyi jantung janin teratur )

·      Uji beku darah baik, kadar plasma fibrinogen > 250 mg%

·      Pelepasan plasenta < 1/6 bagian permukaan

b.     Solusio plasenta sedang

·      Perdarahan > 200 cc disertai dengan rasa sakit

·      Uterus tegang

·      Gawat janin/ gerakjanin berkurang/ janin telah mati

·      Palpasi bagian janin sulit diraba

·      Auskultasi jantung janin dapat terjadi asfiksiaringan dan sedang

·      Ada tanda presyok/ pra- renjatan

·      Uji beku darahmasih ada pembekuan, kadar fibrinogen darah 120 – 150 mg%

·      Pelepasan plasenta 1/ 4 – 2/ 3 bagian permukaan.

·      Pada pemeriksaan dalam, ketuban menonjol

c.     Solusio plasenta berat

·      Perdarahan banyak sekali pervaginan yang disertai rasanyeri / perdarahan hebat terselubung/tersembunyi.

·      Uterus sangat tegang dan berkontraksi tetanik, sakit pada perabaan.

·      Terdapat tandarenjatan/syok dengan TD menurun, nadi dan pernafasan meningkat.

·      Biasanya janin telah meninggal dalam uterus.

·      Uji beku darah tidak ada pembekuan,kadar fibrinogen < 100 mg %.

·      Pelepasan plasenta 2/ 3 bagian permukaan atau telah terlepas seluruhnya.

4.     Komplikasi solusio plasenta

·       Syok pendarahan

·       Gagal ginjal

·       Kelainan pembekuan darah


2.1  Pengertian Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia

Hipertensi adalah masalah medis yang umum ditemui selama kehamilan. Inilah yang perlu diketahui ibu hamil agar lebih meningkatkan kesadaran merawat diri. Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian ibu mau  pun janin. Kira-kira 15-25% wanita yang didiagnosis awal dengan hipertensi dalam kehamilan akan mengalami Pre-Eklamsia Berat (PEB). Sulit memprediksi yang mana akan mengalami PEB.Dr. Meutia Ria Octaviana, Sp.OG, M.Kes – Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Primaya Hospital Tangerang menjelaskan bahwa hipertensi dalam kehamilan adalah penyakit yang harus diwaspadai. Dengan penanganan yang baik, hipertensi tidak akan berkembang atau membahayakan, dan dapat hilang setelah kelahiran. Namun jika dibiarkan, hipertensi saat hamil bisa membahayakan.Hipertensi pada kehamilan apabila tekanan darahnya ≥140/90 mmHg. Dibagi menjadi ringan-sedang (140 – 159 / 90 – 109 mmHg) dan berat (≥160/110 mmHg) (Malha et al., 2018).

Hipertensi pada kehamilan dapat digolongkan menjadi:

a.     pre-eklampsia/ eclampsia

b.     hipertensi kronis pada kehamilan

c.     hipertensi kronis disertai preeklampsia

d.     hipertensi gestational

Preeklamsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.Preeklamsia harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia adalah ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun atau di bawah 20 tahun.

Eklampsia adalah penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam masa nifas disertai dengan hypertensi oedema dan proteinuria. (obstetricpatologi,unpad,1984).Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelianan neurologik) dan atau koma dimana sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala pre eklampsia.Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeclampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma.Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravidae dari pada multiparae. Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar, hydramnion, mola hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan.

 

2.2  Etiologi Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Etiologi hipertensi dalam kehamilan beragam, tergantung dari subtipe hipertensi. Hipertensi kronis yang sekunder dapat disebabkan oleh beberapa etiologi yakni penyakit parenkimal ginjal (mis. ginjal polikistik), penyakit vaskular ginjal (mis.stenosi arteri ginjal, displasia fibromuskuler), gangguan endokrin (mis.kelebihan adrenokortikosteroid atau mineralokortikoid, feokromositoma, hipertiroidisme atau hipotiroidisme, kelebihan hormon pertumbuhan, hiperparatiroidisme), koarktasio aorta, atau penggunaan kontrasepsi oral.  Faktor risiko dari hipertensi dalam kehamilan di antaranya:

·      Riwayat hipertensi pada keluarga

·      Riwayat hipertensi kronis sebelumnya

·      Diabetes

·      Nuliparitas

·      Obesitas

Etiologi Preeklamsia

Penyebab preeklamsia masih belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.

Kelainan tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu hamil dan janin.

Meskipun penyebabnya belum diketahui, sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada plasenta:

·      Pernah atau sedang menderita diabetes, hipertensi, penyakit ginjalpenyakit autoimun, dan gangguan darah

·      Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

·      Baru pertama kali hamil

·      Hamil lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

·      Hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun

·      Mengandung lebih lebih dari satu janin

·      Mengalami obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2

·      Kehamilan yang sedang dijalani merupakan hasil metode bayi tabung (in vitro fertilization)

·      Ada riwayat preeklamsia dalam keluarga

Diagnosis Preeklamsia

Dokter akan menanyakan keluhan dan gejala yang dialami ibu hamil, serta riwayat kesehatan ibu hamil dan keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, serta kondisi kandungan. Jika tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jeda waktu 4 jam, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut untuk memastikan diagnosis preeklamsia:

·      Tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine

·      Tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit darah

·      Ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin

·      USG Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta

·      Nonstress test (NST) dengan cardiotocography atau CTG, untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan

Penyebab Eklamsia

Hingga saat ini, penyebab terjadinya preeklamsia dan eklamsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga kondisi ini diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta. Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko preeklamsia dan eklamsia pada ibu hamil adalah:

·      Memiliki riwayat menderita preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

·      Sedang menjalani kehamilan pertama atau memiliki jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun)

·      Memiliki riwayat hipertensi kronis atau hipertensi dalam kehamilan

·      Hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

·      Mengalami kondisi dan penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabitobesitas, serta penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid (APS)

·      Kondisi tertentu dalam kehamilan, seperti mengandung lebih dari satu janin atau hamil dengan program bayi tabung (IVF)

Diagnosis Eklamsia

Dalam mendiagnosis eklamsia, dokter akan menanyakan kepada keluarga yang membawa ibu hamil ke rumah sakit tentang kejang yang dialami, termasuk riwayat pemeriksaan kehamilan, penyakit, dan preeklampsia sebelumnya.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan apakah kondisi ibu hamil dan janin dalam keadaan stabil.

Untuk memastikan eklampsia dan kerusakan organ yang sudah terjadi, akan dilakukan pemeriksaan penunjang berikut:

·      Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah secara keseluruhan

·      Tes urin, untuk memeriksa keberadaan dan kadar protein di urin

·      Tes fungsi hati, untuk mendeteksi kerusakan fungsi hati

·      Tes fungsi ginjal, termasuk ureum dan kreatin, untuk mengetahui kadar kreatin di ginjal dan mendeteksi adanya kerusakan ginjal

·      Ultrasonografi (USG), untuk memastikan kondisi janin dalam keadaan sehat

 

2.3  Tanda Dan Gejala Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Umumnya, hipertensi biasa tidak selalu menunjukkan tanda-tanda dan gejala tertentu.

Pada kasus hipertensi gestasional, tanda-tanda dan gejala pada setiap penderita mungkin akan berbeda, tetapi gejala akan muncul saat kehamilan sedang berlangsung.

Tanda-tanda dan gejala yang utama tentunya adalah:

·      Tekanan darah tinggi pada saat usia kandungan di atas 20 minggu

o   Tidak ada protein di dalam urine (proteinuria)

o   Sakit kepala

o   Pusing

o   Edema (pembengkakan)

o   Berat badan naik secara tidak wajar

o   Penglihatan kabur atau buram

o   Mual dan muntah berlebihan

o   Sakit di bagian kanan atas perut

o   Buang air kecil semakin sedikit

 

Gejala Preeklamsia dan Eklamsia

Gejala Preeklampsia biasanya tanda-tanda Preeklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria.

1) Preeklampsia ringan :

a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal.

b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstearm

2) Preeklampsia berat :

a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih

b) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+.

c) Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.

d) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di epigastrium.

e) Terdapat edema paru dan sianosis

f) Trombositopenig (gangguan fungsi hati)

g) Pertumbuhan janin terhambat.

Gejala eklampsia

Pada umumnya kejanga didahului oleh makin memburuknya Preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejangan terutama pada persalinan bahaya ini besar.

 

 

 

 

 

2.4  Komplikasi Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia

Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin.Komplikasi dibawahini biasanya terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia.

a. Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensiakut dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia.

b. Hipofibrinogenemia. Pada Preeklampsia berat

c. Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkangejala klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus.Belum di ketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darahmerah. Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.

d. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematianmaternal penderita eklampsia.

e. Kelainan mata, Kehilanganpenglihatan untuk sementara, yang berlansungsampaiseminggu.

f. Edema paru-paru.

g. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi – eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum.

h. Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.

i. Kelainan ginjal

j. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibatkejang-kejang pneumonia aspirasi.

k. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra – uterin.

 

2.5.         Pencegahan Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Mencegah Hipertensi pada Ibu Hamil

Meski pada beberapa kondisi hipertensi pada ibu hamil sulit dicegah, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut. Berikut di antaranya:

1.Ketahui Tingkat Tekanan Darah sebelum Hamil

Penting untuk mengetahui berapa tingkat tekanan darah yang dimiliki, sejak sebelum hamil. Jadi, saat sedang program hamil, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, atau sekadar cek tekanan darah. Dengan begitu, kamu bisa tahu kapan tekanan darah sudah mulai tinggi dan harus berhati-hati.

2.Kurangi Asupan Garam

Asupan garam atau natrium yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Jika kamu biasanya menaburkan garam di setiap hidangan, sebaiknya segera hentikan kebiasaan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan batas aman konsumsi garam per harinya 1 sendok teh atau 2.400 miligram.

Selain pada masakan, perhatikan juga kandungan garam pada setiap makanan kemasan dan olahan. Terutama makanan olahan, yang biasanya sudah mengandung garam atau natrium dalam jumlah yang besar.

3.Olahraga Rutin

Sejak program hamil, atau jauh sebelumnya, penting untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas. Jika sudah hamil, tanyakan kepada dokter tentang bagaimana memulai program olahraga teratur, termasuk apa saja jenis olahraga yang boleh dilakukan. 

Wanita yang tidak banyak bergerak cenderung menambah berat badan, yang dapat meningkatkan risiko hipertensi selama kehamilan, juga sebelum dan sesudahnya. Jadi, cobalah untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat dan aktif sebelum memulai kehamilan.

4.Perhatikan Obat-obatan yang Dikonsumsi

Pastikan kamu tidak minum obat yang dapat meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya selalu tanyakan kepada dokter untuk mengetahui obat apa yang aman. Pikirkan dua kali untuk menggunakan obat apa pun kecuali dokter menyarankan. Agar lebih mudah, kamu juga bisa download aplikasi Halodoc untuk berkonsultasi pada dokter tentang penggunaan obat. 

5.Jalani Pemeriksaan Prenatal Rutin 

Jika tekanan darah mulai meningkat selama kehamilan, ibu hamil perlu mengetahuinya lebih awal. Pastikan untuk menepati semua jadwal kontrol kehamilan dan pertimbangkan untuk membeli monitor tekanan darah rumah untuk memeriksa tekanan darah lebih sering di rumah.

6.Hindari Rokok dan Alkohol

Tembakau dan alkohol tidak aman untuk janin dan dapat meningkatkan risiko hipertensi pada ibu hamil. Jadi, pastikan untuk menghindari dua hal ini selama kehamilan, agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan serius, ya. 

 

Jika kamu sudah memiliki tekanan darah tinggi, bicarakan dengan dokter tentang penggunaan obat sebelum dan selama kehamilan. Sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan stabil sebelum hamil, karena sembilan bulan kehamilan bukanlah waktu terbaik untuk mencoba obat baru atau tambahan. 

 

a. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

b. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada faktor-faktor predeposisi.

c. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet bergunadalam pencegahan. Istirahat tidakselalu berarti berbaring ditempat tidur,namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.

d. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tandaPreeklampsia dan mengobatinya segera apabila di temukan.

e. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda – tanda Preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.

 

 KEHAMILAN GANDA

1. Pengertian :

   Kehamilan ganda  adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan ganda adalah bila proses fertilisasi menghasilkan janin lebih dari satu. Kehamilan ganda merupakan dimana terdapat dua atau lebih embrio atau janin sekaligus, kehamilan ganda terjadi apabila dua atau lebih ovum dilepaskan dan dibuahi atau bila satu ovum yang dibuahi membelah secara dini hingga membentuk dua embrio yang sama pada stadium massa sel dalam atau lebih awal.

 

*    Kelainan Letak

1. Letak sungsang

a. Pengertian

    Persalinan letak sungsang adalah persalinan pada bayi dengan presentasi bokong

(sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuaba, 1988).

Gambar 4. Macam-macam Letak Sungsang

 

  Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar.

 

2. Etiologi

Kehamilan ini dipengaruhi oleh beberapa factor;
Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah : bangsa, umur dan paritas sering mempengaruhi kehamilan 2 telur

2. Factor umur dan faritas
a. Untuk peningkatan usia sampai sekitar 40 tahun atau paritas sampai dengan 7, frekuensi kehamilan ganda akan meningkat.
b. Kehamilan ganda dapat terjadi kurang dari sepertiga pada wanita 20 tahun tanpa riwayat kelahiran anak sebelumnya, bila dibandingkan dengan wanita yang berusia diantara 35-40 tahun dengan 4 anak atau lebih.
c. Di Swedia, petterson dkk (1976), memastikan peningkatan yang nyata pada angka kehamilan ganda yang berkaitan dengan meningkatnya paritas.
d. Dalam kehamilan pertama, frekuensi janin kembar adalah 1,3% dibandingkan dengan kehamilan ke-4 sebesar 2,7%.

3. Factor Keturunan
4. Factor nutrisi
a. Nylander (1971) mengatakan bahwa peningkatan kehamilan ganda berkaitan dengan BB ibu. Ibu yang lebih tinggi dan berbadan besar mempunyai resiko hamil ganda sebesar 25-30% dibandingkan dengan ibu yang lebih pendek dan berbadan kecil.
b. McGillivray (1986) juga memaparkan bahwa kehamilan dizigotik lebih sering ditemui pada wanita berbadan besar dan tinggi dibandingkan pada wanita pendek dan bertubuh kecil.
5. Factor terapi infertilitas
a. Induksi ovulasi dengan menggunakan FSH plus chorionic gonadrotopin atau chlomiphene citrate menghasilkan ovulasi ganda.
b. Insiden kehamilan ganda seiring penggunaan gonadotropin sebesar 16-40%,75% kehamilan sengan dua janin. (Schenker, 1981)
c. Tuppin dkk (1993) melaporkan dari Prancis, insiden persalinan gemelli dan triplet terjadi karena induksi ovulasi terapi human menopause gonadrotopin (hMG).
d. Faktor resiko untuk kehamilan ganda setelah ovarium distimulasi denganh hMG berpengaruh terhadap peningkatan jumlah estradiol dan injeksi chorionic gonadrotopin pada saat bersamaan akan berpengaruh terhadap karasteristik sperma, meningkatkan konsentrasi dan motilitas sperma. (Dickey, 1992)
e. Induksi ovulasi meningkatkan insiden kehamilan ganda dizigotik dan monozigotik.
6. Factor assistend reproductive technology (ART)
a. Tekhnik ART didesain untuk meningkatkan kemungkinan kehamilan, dan juga meningkatkan kemungkinan kehamilan ganda. Pasien pada kasus ini, pembuahan dilakukan elalui teknik fertilisasi in vitro dengan melakukan seleksi terhadap ovum yang benar-benar berkualitas baik, dan dua dari empat embrio ditransfer kedalam uterus.
b. Pada umumnya, sejumlah embrio yang ditransfer kedalam uterus maka sejumlah itulah akan beresiko kembar dan meningkatkan kehamilan ganda.

*    Jenis-jenis dari kehamilan ganda
1. Kehamilan kembar monozigotik
Merupakan kehamilan ganda yang berasal dari satu ovum yang dibuahi dan membelah secara dini dan membentuk dua embrio yang sama, kehamilan ini juga disebut hamil kembar identik atau hamil kembar homolog atau hamil kembar uniovuler, karena berasal dari satu ovum.
Cirri-cirinya adalah
a. Jenis kelamin sama
b. Rupanya sama/ memiiki wajah yang sama (seperti bayangan)
c. Golongan darah sama, cap kaki dan tangan sama
d. Sebagian atau kira-kira 1/3 kehamilan kembar adalah monozigotik, mempunyai 2 amnion, 2 karion, dan 2 plasenta; kadang-kadang 2 plasenta menjadi 1. Keadaan ini tidak dapat dibedakan dengan kembar dizigotik. 2/3 mempunyai 1 plasenta, 1 korion, dan atau 2 amnion. Pada kehamilan kembar monoamniotik kematian bayi masih sangat tinggi.
e. Pada kembar monozigotik dapat terjadi kelainan pertumbuhan seperti kembar siam dan insiden kelainan malformasi masih tinggi.
2. Kehamilan kembar dizigotik
Merupakan kehamilan ganda yang berasal dari 2 atau lebih ovum yang telah dibuahi, sebagian besar kehamilan ganda adalah dizigotik atau kehamilan kembar fraternal.
Cirri-cirinya adalah :
a. Jenis kelamin dapat sama atau berbeda
b. Persamaan seperti adik kakak
c. Golongan darah tidak sama
d. Cap tangan dan kaki tidak sama
e. Sebagian atau kira-kira 2/3 kehamilan kembar adalah dizigotik yang mempunyai 2 plasenta, 2 korion dan 2 aamnion dan 2 amnion,2 korion, 1 plasenta.

3. Kembar Superkundasi

Kembar ini terjadi karena pembuahan dua sel telur atau lebih oleh sperma dalam siklus haid yang sama dari hubungan seks yang berbeda waktu. Dengan begitu, sangat mungkin jika ada dua pria yang menghamili satu wanita dan menghasilkan bayi kembar fraternal. Jadi, masing-masing pria itu menghasilkan satu bayi yang tumbuh bersama di rahim satu wanita, dan akan lahir di waktu yang sama. Istilah lebih tepatnya adalah heteropaternal superfekundasi.

 

4. Kembar Superfetasi

Pada kasus ini, janin baru terbentuk ketika di dalam rahim sudah ada janin dari pembuahan sebelumnya. Memang hampir sama dengan kembar fraternal, hanya saja kembar superfetasi berasal dari dua sel telur dari siklus haid yang berbeda. Saat periksa kandungan bisa terlihat kalau dua janin ini memiliki perkembangan yang berbeda

 

3. Tanda Dan Gejala Yang Mengindikasikan Kehamilan Kembar

*    Tanda dan gejala kehamilan ganda

a. Ukuran uterus, tinggi fundus uterus (TFU) dan lingkar abdomen melebihi ukuran

yang seharusnya untuk usia kehamilan akibat pertumbuhan uterus yang pesat

pada trimester dua.

b. Mual dan muntah berat (akibat peningkatan kadar HCg)

c. Adanya riwayat kembar dalam keluarga

d. Riwayat penggunaan obat penyubur sel telur

e. Pada palpasi abdomen didapatkan tiga atau lebih bagian besar dan/atau banyak

bagian kecil yang semakin mudah diraba terutama trimester ketiga

f. Pada auskultasi ditemukan lebih dari satu bunyi denyut jantung janin yang jelas

berbeda (berbeda >10 denyut jantung per menit dan terpisah dari jantung ibu).


4. Komplikasi Kehamilan Gemelli

    Dibandingkan dengan kehamilan tunggal, kehamilan multipel lebih mungkin terkait dengan banyak komplikasi kehamilan. Komplikasi obstetrik yang sering didapatkan pada kehamilan kembar meliputi polihidramnion, hipertensi yang diinduksi oleh kehamilan ketuban pecah dini, presentasi janin abnormal, dan prolaps tali pusat. Secara umum, komplikasi tersebut dapat dicegah dengan perawatan antenatal yang baik

 Menurut Hartono, dkk (2006:852-897) beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada janin yang dilahirkan pada kehamilan kembar diantaranya adalah:

a. Prematuritas Janin dari kehamilan multipel cenderung dilahirkan preterm dan kebanyakan memerlukan perawatan pada neonatal intensive care unit (NICU). Sekitar 50 persen kelahiran kembar terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu. Lamanya kehamilan akan semakin pendek dengan bertambahnya jumlah janin di dalam uterus. Sekitar 20% bayi dari kehamilan multipel merupakan bayi dengan berat lahir rendah.

b. Hyalin Membrane Disease (HMD) Bayi kembar yang dilahirkan sebelum usia kehamilan 35 minggu dua kali lebih sering menderita HMD dibandingkan dengan bayi tunggal yang dilahirkan pada usia kehamilan yang sama. HMD atau yang dikenal sebagai Respiratory Distres Syndrom (RDS) adalah penyebab tersering dari gagal nafas pada bayi prematur. Terjadi segera setelah atau beberapa saat setelah bayi lahir. Ditandai dengan sukar bernafas, cuping hidung, retraksi dinding dada dan sianosis yang menetap dalam 48-96 jam pertama kehidupan. Prevalensi HMD didapatkan lebih tinggi pada kembar monozigotik dibandingkan dengan kembar dizigotik. Bila hanya satu bayi dari sepasang bayi kembar yang menderita HMD, maka bayi kedua lebih cenderung menderita HMD dibandingkan dengan bayi pertama.

c. Asfiksia saat Kelahiran/Depresi Napas Perinatal Bayi dari kehamilan multipel memiliki peningkatan frekuensi untuk mengalami asfiksia saat kelahiran atau depresi perinatal dengan berbagai sebab. Prolaps tali pusat, plasenta previa, dan ruptur uteri dapat terjadi dan menyebabkan asfiksia janin. Kejadian cerebral palsy 6 kali lebih tinggi pada bayi kembar dua dan 30 kali lebih sering pada bayi kembar tiga dibandingkan dengan janin tunggal. Bayi kedua pada kehamilan kembar memiliki resiko asfiksia saat lahir/dpresi napas perinatal lebih tinggi.

d. Infeksi Streptococcus group B Infeksi onset cepat Streptococcus group B pada bayi berat lahir rendah adalah 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan tunggal dengan berat badan yang sama.

e. Vanishing Twin Syndrome Kemajuan teknologi ultrasonografi memungkinkan dilakukannya studi sonografik pada awal gestasi yang memperlihatkan bahwa insiden kembar trimester pertama jauh lebih tinggi daripada insiden kembar saat lahir. Kehamilan kembar sekarang diperkirakan terjadi pada 12 persen di antara semua konsepsi spontan, tetapi hanya 14 persen di antaranya yang bertahan sampai aterm. Pada sebagian kasus, seluruh kehamilan lenyap, tetapi pada banyak kasus, satu janin yang meninggal atau sirna (vanish) dan kehamilan berlanjut sebagai kehamilan tunggal. Pada 21-63% konsepsi kembar meninggal atau sirna (vanish) pada trimester kedua. Keadaan ini dapat menyebabkan kelainan genetik atau kelainan neurologik/defek neural tube pada janin yang tetap bertahan hidup.

f. Kelainan Kongenital/Akardia/Rangkaian Perfusi Balik Arteri pada Janin Kembar (twin reverse-arterial-perfusion/TRAP) Pada plasenta monokorionik, vaskularisasi janin biasanya tergabung, kadang-kadang amat kompleks. Anastomosis vaskular pada plasenta monokorionik dapat dari arteri ke arteri, vena ke vena atau arteri ke vena. Biasanya cukup berimbang dengan baik sehingga tidak ada salah satu janin yang menderita. Pada TRAP terjadi pirau dari arteri ke arteri plasenta, yang biasanya diikuti dengan pirau vena ke vena. Tekanan perfusi pada salah satu kembar mengalahkan yang lain, yang kemudian mengalami pembalikan aliran darah dari kembarannya. Darah arteri yang sudah terpakai dan mencapai kembar resipien cenderung mengalir ke pembuluh-pembuluh iliaka sehingga hanya memberi perfusi bagian bawah tubuh dan menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan tubuh bagian atas. Gangguan atau kegagalan pertumbuhan kepala disebut akardius asefalus. Kepala yang tumbuh parsial dengan alat gerak yang masih dapat diidentifikasi disebut akardius mielasefalus. Kegagalan pertumbuhan semua struktur disebut akardius amorfosa.

g. Twin-to-twin Transfusion Syndrome Darah ditransfusikan dari satu kembaran (donor) ke dalam vena kembaran lainnya (resipien) sedemikian rupa sehingga donor menjadi anemik dan pertumbuhannya terganggu, sementara resipien menjadi polisitemik dan mungkin mengalami kelebihan beban sirkulasi yang bermanifestasi sebagai hidrops fetalis. Menurut ketentuan, terdapat perbedaan hemoglobin 5 g/dl dan 20% berat badan pada sindrom ini. Kematian kembar donor dalam uterus dapat mengakibatkan trombus fibrin di seluruh arteriol yang lebih kecil milik kembar resipien. Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh transfusi darah yang kaya tromboplastin dari janin donor yang mengalami maserasi. Kembar yang bertahan hidup mengalami koagulasi intravaskular diseminata.

h. Kembar Siam Apabila pembentukan kembar dimulai setelah cakram mudigah dan kantung amniom rudimenter sudah terbentuk dan apabila pemisahan cakram mudigah tidak sempurna, akan terbentuk kembar siam/kembar dempet.

 Terdapat beberapa jenis kembar siam, yaitu:

1) Thoracopagus, bila kedua tubuh bersatu di bagian dada (30-40%). Jantung selalu terlibat dalam kasus ini. Bila jantung hanya satu, harapan hidup baik dengan atau tanpa operasi adalah rendah.

2) Omphalopagus, bila kedua tubuh bersatu di bagian perut (34%). Umumnya masing-masing tubuh memiliki jantung masing- masing, tetapi kembar siam ini biasanya hanya memiliki satu hati, sistem pencernaan, dan organ-organ lain.

3) Xyphopagus, bila kedua tubuh bersatu di bagian xiphoid cartilage.

4) Pyopagus (iliopagus), bila bersatu di bagian belakang (19%).

5) Cephalopagus/craniopagus, bila bersatu di bagian kepala dengan tubuh terpisah.

i. Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) Pada kehamilan kembar, pertumbuhan dan perkembangan salah satu atau kedua janin dapat terhambat. Semakin banyak jumlah janin yang terbentuk, maka kemungkinan terjadinya IUGR semakin besar.

 

5. Pencengahan dalam Kehamilan

Untuk kepentingan ibu dan janin perlu diadakan pencegahan terhadap pre-eklamsia dan eklamsia, partus prematurus dan anemia. Pemeriksaan antenatal perlu diadakan lebih sering. Sehingga tanda-tanda pre-eklamsia dapat diketahui dini dan penanganan dapat dikerjakan dengan segera. Menurut Varney (2004:661) pemeriksaan antenatal dapat dilakukan antara lain:

 a. Pemeriksaan kehamilan setiap 2 minggu pada usia kehamilan 34 – 36 minggu

b. Pemeriksaan kehamilan setiap minggu pada usia kehamilan >36 minggu 28

c. Pertumbuhan janin dipantau dengan USG setiap 3 – 4 minggu yang dimulai pada usia kehamilan 20 minggu Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena hal itu menyebabkan aliran darah ke plasenta meningkat, sehingga pertumbuhan janin lebih baik. Penanganan dalam Kehamilan Mochtar (2012:264) 1) Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditegakkan pemeriksaan ulangan harus lebih sering (1× seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu) 2) Setelah kehamilan 30 minggu, koltus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari, karena akan merangsang partus prematurus. 3) Pemakaian korset gurita pada perut yang tidak terlalu ketat diperbolehkan, supaya terasa lebih ringan. 4) Periksa darah lengkap, Hb, dan golongan darah.

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENDENGAR AKTIF DAN BERTANYA EFEKTIF