MENDENGAR AKTIF DAN BERTANYA EFEKTIF

Bab 3: MENDENGAR AKTIF DAN BERTANYA EFEKTIF
1. Pengertian Mendengar Aktif 
Mendengar aktif adalah suatu keterampilan dasar kemunikasi bagi bidan untuk menghimpun informasi sebanyaknya untuk menegakkan diagnosa dengan baik dan memberikan umpan balik / merefleksi isi ucapan dan perasaan klien.
2. Tujuan mendengar aktif 
 1. Mendorong klien untuk berbicara.
 2. Menunjukkan minat dan perhatian kita terhadap klien.
 3. Memberi arahan percakapan terhadap klien. 
 4. Meningkatkan kesadaran konselor terhadap perasaan klien. 
 5. Untuk memperoleh informasi. 
 6. Memberi suatu arahan percakapan terhadap klien. 

3. Teknik mendengar aktif 
1. mendengar pasif (diam), dilakukan jika klien sedang menceritakan masalah nya : contohnya mengebu gebu dalam menceritakan masalahnya dengan ekspresi kesal dan sedih, bercerita tidak henti hentinya. 
2. Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal dilakukan sewaktu klien berbicara panjang tentang peristiwa yang terjadi pada dirinya contohnya hmm,ya, lalu, oh begitu, terus atau sekali mengangguk. 3. Membuka pembicaraan, undang untuk beerbicara ( mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi) contohnya mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konslor belum puas dengan jawaban yang diberikan klien.
 4. Mendengar aktif, yaitu memberikan umpan balik / refleksi isi ucapan dan perasaan yaitu merangkum, merefleksikan isi ucapan

4. Prinsip mendengar aktif 
1. Menerima orang lain apa adanya. 
2. Menghargai perasaan orang lain. 
3. Toleransi terhadap keanehan orang lain, dengan cara konsentrasi pada isi bukan cara bicaranya.
4. Perhatian penuh dan terpusat kepada pasien dan pandangan sesekali menatap wajah pasien dalam batas wajar. 
5. Mendengarkan segala sesuatu yang di kemukakan oleh pasien, memperhatikan perasaaan dan perilakunya. 
6. Duduk menghadap klien dengan nyaman, menghindari gerakan yang mengangggu. 
7. Melakukan pengulangan / refleksi supaya ada pemahaman.

5. Faktor penghambat mendengar aktif 
1. Sikap mendengar acuh tak acuh, tidak ada kontak mata. 
2. Kegagalan mengikuti orang lain berbicara (interupsi dini). 
3. Mulai berbicara cerita anda sendiri (bedakan dengan membuka diri). 
4. Kehilangan pikiran sejenak.
 5. Bereaksi secara impulsive (tuhan ampun deh). 
6. Memberikan nasehat sangat awal. 
7. Memberikan nilai 
8. Mengekspresikan asumsi diri pada pasien.

6. Tujuan bertanya 
Adalah mendorong klien untuk bicara sehingga apa yang menjadi masalahnya bisa terkaji secara lengkap,menunjukan minat dan perhatian kita kepada klien, meningkatkan kesadaran kita terhadap perasaan klien dan memberi suatu arahan percakapan terhadap klien. hal ini, untuk menghindari percakapan percakapan yang tidak dibutuhkan dan untuk dapat mengali informasi dan kebutuhan klien.

7. Jenis Pertanyaan 
 a. Pertanyaan Tertutup Pertanyaan tertutup bermanfaat untuk mengumpulkan informasi yang faktual (biasanya dilakukan pada awal-awal percakapan), yang menghasilkan jawaban singkat ( ya atau tidak). Pertanyaan tertutup menciptakan keadaan tidak nyaman saat berkomunikasi dan dalam proses pengambilan keputusan, karena bidan mengontrol jalannya percakapan dan klien hanya akan memberikan informasi sebatas pertanyaan yang diajukan. Contoh : untuk menanyakan biodata klien, riwayat kesehatan “ apakah ibu bekerja? ” “ apakah ibu pernah mengalami keguguran sebelumnya? ” 
 b. Pertanyaan Terbuka Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memberi kebebasan menjawab dan memungkinkan adanya berbagai macam jawaban. Pertanyaan terbuka akan dapat memfasilitasi klien untuk dapat berpartisipasi secara aktif dalam proses komunikasi. Cara ini efektif untuk menggali informasi yang lebih lengkap dari klien, Juga perlu digunakan intonasi suara yang menunjukkan minat dan perhatian. Contoh: Untuk mengetahui kepercayaan, pengetahuan dan perasaan klien. Bagaimana dukungan suami dan keluarga ibu dengan kehamilan ini? 
 c. Pertanyaan Mendalam Pertanyaan mendalam digunakan untuk menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh klien. Contoh: ibu tadi mengatakan bahwa kehamilan ini sangat menyulitkan, bisa ibu ceritakan labih lanjut? 
 d. Pertanyaan Mengarahkan (bersifat sugestif) Jenis pertanyaan ini sangat tidak tepat untuk digunakan dalam melakukan komunikasi dengan klien, bahkan sebaiknya dihindari. Contoh: pasti ibu tidak akan melupakan anjuran yang telah saya sebutkan barusan kan? 

8. Teknik bertanya efektif 
1. Gunakan intonasi suara yang menunjukan perhatian, minat dan keakrapan. Jangan terlalu cepat / lambat atau terlalu keras atau lemah.
 2. Gunakan kata kata yang dipahami klien, karna bahasa bahasa ilmiah yang tidak dipahami klien tidak akan bisa terjawab atau bahkan menyebakan salah arti. 
3. Ajukan pertanyaan pertanyaan satu persatu. Jangan mengejukan beberapa pertanyaan sekaligus karna ini tidak efektif 
4. Tunggu jawaban dengan penuh minat jangan memotong biarkan klien menyelesaikan kalimatnya karna pemotongan ditengeh kalimat bisa menimbulkan salah presepsi.
 5. Gunakan kata kata yang mendorong klien untuk tetap bicara (bagaimana ?,dan, lalu,maksudnya?) 6. Bila harus menanyakan hal yang sangat pribadi, jelaskan mengapa hal itu harus ditanya. 
7. Hindari penggunaan tanda “mengapa”karna kemungkinan klien dapat merasa disalahkan.

9. Manfaat bertanya efektif
1. Membuat orang yang anda ajak bicara memahami / mencoba memahami.
2. Mendorong seseorang untuk cerita seperti dialami benar benar.
3. Memperjelas pecakapan antara anda sebagai pendengar dan pembicara.
4. Memberikan penjelasan untuk menceritakan hal hal yang ingin diceritakannya.
5. Mecegah pembuatan kesimpulan secera terburu buru.

Bab 4: PENGAMBILAN KEPUTUSAN
.1 PENGERTIAN KLIEN
Klien atau pelanggan ( customer ) adalah orang yang akan mendefinisikan hasil dari
proses yang diberikan ( puas/tidak puas ) .
Menurut Vincent, pelanggan adalah semua orang yang menuntut kita atau perusahaan kita
untuk memenuhi suatu standar kualitas tertentu dan karena itu akan memberi pengaruh pada
kinerja staff atau perusahaan. Pelanggan dalam pelayanan kebidanan adalah orang yang langsung menerima jasa pelayanan yang diberikan dan menikmati pelayanan atau asuhan yang diberikan.
Vincent dalam bukunya Total Quality Management, memberi beberapa definisi
tentang pelanggan atau klien yaitu pelanggan adalah orang yang tidak bergantung pada kita,
tetapi kita bergantung kepadanya, pelanggan adalah orang yang membawa kita kepada
keinginannya dan pelanggan adalah orang teramat penting yang harus dipuaskan.

.2 ORANG-ORANG YANG DISEBUT KLIEN DALAM ASUHAN KEBIDANAN
Orang-orang yang disebut pelanggan atau klien dalam pelayanan kebidanan adalah :
1. Bayi baru lahir
2. Balita
3. Remaja putri
4. WUS ( Wanita Usia Subur )
5. PUS ( Pasangan Usia Subur )
6. Pasutri ( pasangan suami istri )
7. Wanita pada masa pra-menopause, menapouse, dan pascamenopause

.3 TIPE-TIPE PELANGGAN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN
Pelanggan dalam pelayanan kebidanan dibedakan atas 3 tipe yaitu :
1. Pelanggan yang menerima asuhan: bayi, balita, remaja putri, ibu.
2. Pelanggan pengguna pelayanan kebidanan.
Secara sederhana pelanggan dalam pelayanan kebidanan dapat dikelompokkan
menjadi dua:
a. Pelanggan eksternal ( bayi, balita, remaja, ibu, yang membayar asuhan yang
diberikan).
b. Pelanggan internal ( bidan, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya, serta tenaga
yang terlibat dalam pemberian asuhan atau pelayanan secara langsung).
3. Pelanggan yang membayar pelayanan kebidanan atas nama klien:
a. Instansi kesehatan berwenang ( jamsostek/askes).
b. Praktisi umum.

.4 LINGKUP/BIDANG KONSELING KEBIDANAN
1. Konseling pada anak-anak
Seorang anak membutuhkan bimbingan dan dukungan moral dan fisik dari
keluarga yang juga akan mengatur cara pandang mereka. Karenanya hubungan anak
dengan anak lainnya didasarkan pada keyakinan, presfektif, aturan dan nilai
keluarga.memahami kebutuhan anak, sangat diperlukan dalam membantu menyikap
perilaku emosional mereka. Anak-anak perlu merasa dihargai dan bangga terhadap diri sendiri.
2. Konseling pada remaja
Remaja merupakan aset bangsa yang sangat menentukan bagaimana kualitas
bangsa dimasa mendatang baik kualitas kepribadian, kesehatan, maupun
pendidikannya. Saat ini masalah pendidikan dan kesehatan remaja menjadi topik
pembicaraan diberbagai kalangan. Bidan sebagai tenaga kesehatan dan anggota masyarakat,  bertanggungjawab terhadap permasalaha yang diadapi remaja. Untuk itu, peranan bidan sebagai konselor akan sangat membantu dalam penangan masalah remaja. Menjadi tugas bidan untuk
memberikan bimbingan dan konseling sehingga dapat membantu meningkatkan derajat reproduksi remaja.
Topik konseling remaja yang dapat diberikan bidan meliputi hal-hal sebagai berikut :
1. Remaja dan kesehatan reproduksi remaja
2. Seksualitas
3. Pengenalan organ reproduksi laki-laki dan perempuan
4. Proses terjadinya kehamilan, kehamilan yang tidak dikehendaki, dan aborsi yang
tidak aman.
5. IMS dan HIV/AIDS
6. Isu gender
7. Narkoba dan zat adiktif
8. Hubungan dengan pasangan sebelum dan sesudah menikah
9. Kekerasan pada remaja
3 . Konseling pada ibu atau calon orangtua
Aktivitas konseling calon orangtua/menjad orangtua membantu pemahan diri
untuk menjadi orangtua baik sebagai ayah maupun sebagai ibu. Ketika masuk
masa transisi terjadi suatu gejolak yang dialami oleh individu walaupun
sifatnya hanya sementara. Pada saat itu, individu merasakan adanya masalah
yang harus dihadapi yang merupakan upaya adaptasi pada situasi yang alami.
Salah satu peran bidan ketika menghadapi klien adalah melaksanakan kegiatan
bimbingan dan konseling kebidanan. Untuk memperjelas arah pembelajaran
konseling kebidanan pada orangtua, perlu ada pemahaman terlebih dahulu
tentang bagaimana menjadi orangtua, tanggungjawab suami sebagai kepala
keluarga dan sebagai ayah dan tanggungjawab perempuan sebagi ibu dalam
keluarga.
Masalah yang sering dihadapi keluarga antara lain :
1. Kesehatan anggota keluarga, meliputi kondisi kesehatan
ayah/suami,ibu/istri dan anak.
2. Pendidikan, meliputi pendidikan formal dan non formal bagi anggota
keluarga. Latar belakang pendidikan ayah dan ibu sangat berpengaruh
terhadap pola pikir keluarga dalam menentukan pendidikan pada anaknya.
3. Hubungan antara dan inter keluarga, sangat berpengaruh terhadap
kehidupan keluarga terutama hubungan ibu dan ayah yang biasanya
menjadi model bagi anak-anaknya. Hubungan ini menjadi pola perilaku
anak dimasyarakat dan diluar keluarga. Hungan keluarga menjadi kurang
harmonis karena ketidak samaan pandangan.
4. Psikososial, masalah psikososial biasanya terjadi akibat terciptanya
adaptasi dimasyarakat, terutama terhadap norma dan tata nilai yang
berlaku dalam masyakat.
Bidan dapat memberi layanan konseling kebidanan pada calon pengantin,
maupun pasangan baru yang akan masuk dalam kehidupan keluarga.
4 . Konseling masa antenatal atau konseling pada ibu hamil
Konseling pada masa antenatal terutama ditujukan pada ibu dengan kehamilan
pertama, dalam hal ini bidan perlu menginformasikan beberapa hal:
Perubahan pada trisemester pertama:
1. Perubahan pada fisik pada ibu hamil :
a. Mual yang dapat disertai muntah
b. Enggan makan dan mengidam
c. Perubahan payudara
d. Keletihan dan rasa mengantuk
e. Sering berkemih
f. Rasa perut panas, gangguan pencernaan, kembung.
2. Perubahan psikologis pada ibu hamil
a. Merasa tidak nyaman
b. Muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan
c. Perasaan tidak menentu yang tidak diketahui penyebabnya
Perubahan pada trisemester kedua:
1. Perubahan fisik
a. Ibu masih merasa letih
b. Frekuensi sering berkemih mulai berkurang
c. Berkurangnya mual dan muntah
d. Kadang-kadang sembelit
e. Nafsu makan bertambah dll
2. Perubahan psikologis
a. Ibu sudah merasa sehat
b. Ibu sudah bisa menerima kehamilannya
c. Merasakan pergerakkan janin
d. Merasa terlepas dari ketidak nyamanan dan kekhawtiran
Perubahan pada trisemester ketiga:
1. Perubahan fisik
a. Sesak nafas
b. Nyeri punggung
c. Nyeri tekan payudara
d. Sering berkemih
e. Konstitasi dll
2. Perubahan psikologis
a. Rasa tidak nyaman timbul lagi, merasa dirinya jelek, aneh dan tidak
menarik
b. Takut akan rasa sakit dan bahaya fisik yang timbul pada saat
melahirkan
c. Merasa sedih karena akan terpisah dengan bayinya
d. Merasa kehilangan perhatian
Bidan sebagi konselor dalam konseling pada ibu hamil harus
memperhatikan umur kehamilan dan keadaan ibu pada saat itu. Pada
tahap awal konseling, selalu diadakan hubungan yang mengenakan
seperti pelaksanaan konseling pada umumnya.
5. Konseling pada ibu bersalin ( melahirkan )
Konseling pada ibu melahirkan/pemberian bantuan pada ibu yang
melahirkan dengan kegiatan bimbingan proses melahirkan. Tujuan
aktivitas ini untuk kesejahteraan ibu dan proses kelahiran dapat berjalan
dengan semestinya.
6. Konseling pada ibu nifas
Bantuan konseling pada ibu nifas, meliputi : adaptasi pada masa nifas,
teknik menyusui dan perawatan payudara atau manajemen laktasi.
Pemahaman klien terhadap keadaan pada dirinyaperlu memperoleh batuan,
adanya perasaan nyerisetelah bersalin, engorgement, proses involusi,
proses lokhea, laktasi. Pelaksanaan asuhan kebidanan dengan rawat
gabung (rooming in) yang artinya pelaksanaan rawat gabung ibu dan
bayainya. Dalam keadaan tersebut, ibu diajak untuk mulai memperhatikan
bayinya dan mulai melakukan kedekatan antara ibu dan bayinya.dalam
proses konseling, bidan sebagai konselor harus mampu mendengarkan
klien dan melaksanakan bimbingan dan pelatihan kepada ibu dalam rangka
memandirikan ibu dalam rangka merawat dan memenuhi kebutuhan
bayinya.bidan memeriksa keadaan pundus uteri dengan penuh kelembutan
perabaan serta melakukan komunikasi dengan klien dan menerima segala
keluhan klien. Bidan membimbing klien dalam melaksanakan proses
penyesuaian yang baik pada proses rawat gabung. Bidan mencontohkan
cara memengang bayi dengan kasih sayang penuh.
7. Konseling keluarga berencana
konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan kb.
Dengan melakukan konseling, berarti petugas membantu klien dalam
memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan digunakan sesuai
dengan pilihan. Disamping itu dapat membuat klien merasa lebih puas.
Konseling yang baik juga akan membantu klien dalam menggunakan
kontrasepsi yang lebih lama dan meningkatkan keberhasilan kb. Konseling
juga dapat mempengaruhi intraksi antara petugas dan klien dengan cara
meningkatkan kebutuhan dan kepercayaan yang sudah ada. Namun sering
kali konseling diabaikan dan tidak dilaksanakan dengan baik, karna
petugas tidak memepunyai waktu dan mereka tidak mengetahui bahwa
dengan koseling klien akan lebih mudah mengetahui nasihat.
8. Konseling genetik
Konseling genetik pada hakikatnya akan menjawab pertanyaan yang
berkaitan dengan kelainan pada suatu keluarga, serta memberikan
gambaran dan dapat memperkirakan terulangnya suatu kelainan didalam
keluarga yang sama.
9. Konseling menopause
Wanita yang mengalami monopous dini memiliki gejala yang sama
dengan monopous pada umumnya seperti hot flashes (perasaan hangat
diseluruh tubuh yang terutama terasa pada dada dan kepala), gangguan
emosi, kekeringan pada vagina, dan menurunnya keingina berhubungan
seksual.
10. Konseling tentang kekerasan
Perbedaan gender merupakan faktor pemicu terjadinya kekerasan terhadap
perempuan. Kekerasan terhadap perempuan (KTP) adalah setiap tindakan
yang berakibat kesensaraan atau penderitaan pada perempuan baik secara
fisik, seksual, atau psikologis, termasuk pemaksaan atau perampasan
secara sewenang-wenang baik yang terjadi didepan umum atau dalam
lingkungan kehidupan pribadi. Seringkali kekerasan terhadap perempuan
terjadi karena adanya ketimpangan atau ketidak adilan gender.

5. STRATEGI MEMBANTU KLIEN DALAM PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
Melakukan strategi membantu klien dalam pengambilan keputusan:
Setiap keputusan yang bersifat kompleks, terdapat banyak faktor dan persasaan
Tercakup didalamnya.
1. Ada 4 strategi yang dapat membantu klien membuat keputusan:
a. Membantu klien meninjau kemungkinan pilihannya
b. Membantu klien dalam mempertimbangkan keputusan pilihan
c. Membantu klien mengevaluasi pilihan
d. Membantu klien menyusun rencana kerja
2. 3 K dalam pembuatan keputusan yang baik
a. Langkah pertama
Identifikasi kondisi yang dihadapi oleh klien
b. Langkah kedua
Susunlah daftar kehendak atau pilihan keputusan
c. Langkah ketiga
Untuk setiap pilihan buatlah daftar konsekuensinya baik yang positif maupun
yang negatifnya
3. Tahapan ini merupakan inti dari proses konseling
a. Konselor membantu klien memahami permasalahnnya
b. Konselor membantu memberikan alternatif pemecahan masalah
c. Konselor membantu klien memilih alternatif pemecahan masalah dengan
segala konsekuensinya.

6. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
1. Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami tubuh,seperti: rasa sakit, tidak nyaman, atau
nikmat. Ada kecenderungan menghadirkan tingkah laku yang menimbulkan rasa
tidak senang; atau sebaliknya memilih tingkahlaku yang meberikan kesenangan.
2. Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada situasi secara
subjektif.
3. Rasional
Didasarkan pada pengetahuan. Orang-orang mendapatkan informasi, memahmi
situasi dan berbagai konsekuensinya.
4. Praktikal

Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakannya.
Seorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuan
dalam bertindak.
5. Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan-jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu
orang ke orang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
6. Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik, lingkungan mungkin
memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.

7. TIPE-TIPE/JENIS-JENIS PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
1. Pengambilan keputusan untuk tidak berbuat apa-apa karena ketidak sanggupan
atau merasa tidak sanggup
2. Pengambilan keputusan intuitif, sifatnya; langsung diputuskan, karena keputusan
tersebut diraakan paling tepat.
3. Pengambilan keputusan yang terpaksa,karna segera dilaksanakan.
4. Pengambilan keputusan yang reaktif. Sering kali dilakukan dalam situasi marah
dan tergesa-gesa.
5. Pengambilan keputusan yang ditangguhkan, dialihkan pada orang lain yang
bertanggungjawab.
6. Pengambilan keputusan secara berhati-hati: dipikirkan baik-baik,
mempertimbangkan berbagai pilihan.
Tegaskan bahwa bidan bertujuan membantu klien dengan berhati-hati,
bijaksana,serta mengambil keputusan yang didasarkan pada pengetahuan, fakta
dan juga mempertimbangkan semua pilihan.

8. PEMBERIAN INFORMASI EFEKTIF DALAM MENGAMBIL
KEPUTUSAN
Pemberian informasi dilakukan setelah mendengarkan dengan aktif masalah klien dan
pertanyaan klien tentang informasi. Konseling bukan proses pemberian informasi,
tetapi dalam proses konseling mengandung unsur-unsur pemberian informasi konselor
memperoleh data atau informasi tentang keadaan dan kebutuhan klien dan informasi
yang diberikan sesuai kondisi dan kebutuhan klien.
Pemberian informasi efektif, bila :
1. Informasi yang diberikan spesifik, dapat membantu klien dalam mebuat keputusan
2. Informasi disesuaikan dengan situasi klien, dan mudah dimengerti
3. Diberikan dengan memperhatikan hal-hal berikut:
a. Singkat, dan tepat ( pilih hal-hal penting yang perlu diingat klien )
b. Menggunakan bahasa sederhana
c. Gunakan alat bantu visual sewaktu menjelaskan
d. Memberikan kesempatan klien bertanya dan minta klien mengulang hal-hal
penting yang perlu diingat.

9. UPAYA MENGATASI KESULITAN PADA KLIEN
Tiap individu harus paham akan dirinya. Dengan pemahaman terhadap diri maka kita
akan bisa mengatasi kesulitan-kesulitan yang terjadi saat komunikasi yang berasal
dari komunikator atau bidan sendiri. Adapun untuk memperlancar
komunikasi/konseling persiapan materi, bahan, alat yang bisa mempermudah
penerimaan klien terhadap apa yang akan kita sampaikan perlu dipersiapkan
sebelumnya. Sebagai seorang bidan kita harus menguasai ilmu komunikasi sehingga
dapat melakukan konseling dengan baik pada semua klien dengan bermacam karakter
dan keterbatasan mereka.

Bab 5: KOMUNIKASI DALAM KELOMPOK
A.PENGERTIAN KELOMPOK
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama
yang berinteraksi satu sma lain untuk mencapai tujuan
bersama,mengenal satu sama lain,dan memandang mereka sebagai
bagian dari kelompok tersebut.kelompok ini misalnya adalah
keluarga,kelompok diskusi,kelompok pemecahan masalahan,atau suatu
komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan.
B.MANFAAT KEGIATAN KELOMPOK
Kegiatan kelompok di gunakan untuk saling bertukar
informasi,menambah pengetahuan,memperteguh dan mengubah
sikap dan prilaku.kelompok menjadi kerangka rujukan dalam
berkomunikasi untuk membentuk dan melaksanakan suatu
kegiatan.berikut ini adalah manfaat dari kegiatan kelompok :
- Memenuhi kebutuhan sosial
- Membentuk konsep diri
- Memberi atau menerima dukungan dan bantuan
- Berbagi dengan orang lain
- Menambah wawasan
- Menambah rasa solidaritas antar anggota kelompok
C. KLASIFIKASI KELOMPOK
1. Kelompok primer dan skunder
kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya
berhubungan akrab,personal dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja
sama.
Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya
berhubungan tidak akrab,tidak personal,dan tidak menyentuh hati kita.

kelompok ini di bedakan berdasarkan karakteristik komunikasinya.

John F. Cragan dan David w. Wright (1980) membangi kempok menjadi dua
yaitu :
Deskriptif dan Preskriptif. Deskriptif menunjukan klasifikasi kelompok
dengan menlihat proses membentuknya secara alamiah,sedangkan kategori
Preskriptif mengklasifikasikan kelompok menurut langkah-langkah rasional
yang harus di lewati oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuan nya.
Kelompok Preskriptif mengacu pada langkah-langkah tujuan kelompok.

 Faktor-faktor yang mempengaruhi ke efektifan kelompok:
Angota-anggota kelompok bekerja sama untuk mencapai dua tujuan:
melaksanakan tugas kelompok dan memelihara moral
anggota-anggotanya. Tujuan pertama di ukur dari hasil kerja kelompok
disebut prestasi. (performance) tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan
(satisfacation) jadi, bila kelompok dimaksudkan untuk saling berbagai
informasi (misalnya kelompok belajar), maka keefektifannya dapat
dilihat dari beberapa banyak informasi yang diperoleh anggota
kelompok dan sejauh mana angota dapat memuaskan kebutuhannya

dalam kegiatan kelompok.
1. Faktor situasional karakteristik kelompok meliputi:
A. ukuran kelompok
B. jaringan komunikasi
C. kohesi kelompok
D. kepemimpinan
2. Faktok fersonal: karakteristik anggota kelompok :
a. Kebutuhan interpersonal
b. tindak komunikasi
c. peranan
1. Peranan tugas kelompok
Tugas kelompok adalah pemecahan masalah atau menlahirkan
gagasan-gagasan baru.Peranan tugas berhubungan dengan upaya
memudahkan dan mengkoordinasikan kegiatan yang menunjang tercapai
nya tujuan kelompok
2. Peranan pemeliharaan kelompok
Pemeliharaan kelompok berkenan dengan usaha-usaha untuk
memelihara emosional anggota-anggota kelompok.
3. Peranan individu, Berkenan dengan usaha usaha anggota kelompok
untuk memuaskan kebutuhan individu yang tidak relevan dengan tugas
kelompok

 PENGORGANISASIAN KEGIATAN KELOMPOK
Organisasi adalah sekelompok yang terlibat dalam suatu sistem,sekelompok orang
berkerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.Organisasi adalah tempat orang
berkumpul dan menyaalurkan pendapat dan mempunyai tujuan yang sama melalui
suatu proses penyamaan visi dan misi .
Pengertian menurut beberapa ahli,Gibson (1982) Pengorganisasian meliputi semua
kegiatan manajerial yang dilakukan untuk mewujudkan kegiatan yang di rencanakan
menjadi suatu struktur tugas,wewenang,dan menentukan siapa yang akan melaksanakan

tugas tertentu untuk mencapai tugas yang di inginkan organisasi.

KEGIATAN KELOMPOK
1. PERENCANAAN KEGIATAN
untuk mempersiapkan suatu kegiatan kelompok ada 8 pertanyaan inti sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan
meliputi :
a. Apa masalah atau topik kegiatan
Berkaitan dengan pesan yang ingin di sampaikan pada kegiatan kelompok
b. Siapa yang menjadi peserta kegiatan
Hal-hal yang perlu di perhatikan berkaitan dengan karakteristik peserta :
-jumlah peserta kegiatan
-latar belakang peserta (usia,tingkat pendidikan,bahasa yang
digunakan,budaya atau istiadat masyarakat setempat).
-Pengetahuan peserta tentang masalah yang akan di bahas atau di sampaikan
-Kesanggupan atau kemampuan peserta untuk ikut hadir dalam kegiatan dan hal-hal apakah yang membuat
peserta tertarik & bertahan mengikuti kegiatan
-Alasan-alasan peserta untuk mendapatakan informasi atau layanan dari bidan.
c. Sasaran Kegiatan
Perubahan yang diharapakan dari peserta setelah mengikuti kegiatan.
d. Dimana dan berapa lama waktu yang di gunakan untuk mencapai sasaran
persiapan yang di perlukan untuk mencapai sasaran dan pertimbangkan perlu pembagian dalam beberapa
e. Metode yang sesuai untuk kegiatan.
f. Perlengkapan yang digunakan (alat bantu visual atau audio)
g. Pertanyaan-pertanyaan atau pencairan kelompok yang digunakan untuk memberikan semangatan
atau memulai kegiatan.
h. Evaluasi efektifisan kegiatan

2. MEMPERSIAPKAN TEMPAT
Meliputi :
a. Persiapan ruangan dan perlengkapannya.
b. Persiapan alat tulis,alat bantu visual,materi cetak dalam
jumlah yang cukup.
c. Persiapan tempat duduk.
d. Pengeras suara.
e. Melektakkan alat bantu visual pada tempat yang sesuai

dengan kebutuhan.

3. MELAKSANAKAN KEGIATAN KELOMPOK
Kegiatan kelompok yang baik harus memiliki struktur atau
kesinambungan. Oleh karna itu,setiap kegiatan kelompok
memiliki bagian sebagai berikut :
a. Pembukaan yang efektif
Pembukaan akan menentukan jalan nya presentasi atau
diskusi kelompok.pembukaan dapat membuat sukses atau
meninggalkan kegiatan tersebut.Pembukaan yang baik akan
menarik perhatian peserta,membina hubungan baik dengan
peserta,memperkenalkan topik,tujuan kegiatan dan
pentingnya kegiatan untuk peserta dan mengantisipasi
kelanjutan presesntasi atau diskusi.pada pembukaan
kegiatan lakukan pencairan kelompok dengan menggunakan
lelucon-lelucon atau pertanyaan-pertanyaan yang dapat
membuat para peserta merasa lebih santai
b. Bagian Utama dari Kegiatan
mencakup informasi-informasi utama yang perlu di berikan
selama kegiatan. Bagian ini di organisasikan sebagai sebuah
daftar mengenai pokok-pokok utama.setiap pokok ini
memliki bukti-bukti yang mendukung seperti
fakta-fakta,angka-angka,contoh-contoh,dan rasional-rasional
bagi presentasi.selain itu,peragaan,permainan,bermain
peran,dan lain-lain.
c. Bagian Penutup
merupakan salah satu bagian terpenting dari keseluruhan
kegiatan.sehingga perlu meringkas atau menyatakan kembali
pokok terpenting dan berisikan pertanyaan bersifat
menguntungkan dimana menjelaskan kepada para peserta
tentang penting nya tema kegiatan bagi para peserta.

Bab 6: KOMUNIKASI DALAM PRAKTIK KEBIDANAN
Komunikasi Interpersonal
Komunikasi Interpersonal diperlukan dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan yang
menyangkut hubungan atau interaksi antara klien dengan perawat atau bidan. Interaksi tersebut
mempunyai sifat manusiawi dan memiliki ciri khas. Interaksi itu berlandaskan komunikasi
antar sesama manusia, baik dalam hubungan layanan kesehatan secara individual maupun
secara kelompok. Sementara itu, komunikasi yang terjadi antara seorang tenaga kesehatan
dengan kliennya pada dasarnya adalah komunikasi interpersonal.
Kemampuan dasar diperlukan dalammengawali, mengembangkan, dan memelihara
komunikasi interpersonal yang cukup akrab dan
produktif. Kemampuan tersebut terdiri atas unsur– unsur berikut.
1. Kemampuan untuk saling percaya
2. Kemampuan mengenal pikiran dan perasaan
3. Kemampuan saling mengutarakan serta menangkap gagasan dan perasaan secara tepat dan jelas
4. Kemampuan untuk saling membantu dalam memecahkan masalah – masalah yang dihadapi
dan saling memberikan dukungan.
5. Kemampuan saling menjaga kelestarian komunikasi yang telah terjalin baik
6. Kemampuan memecahkan masalah secara konstruktif yang timbul pada proses komunikasi
berlangsung.

Tujuan komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal dalam konseling merupakan suatu action oriented, ialah suatu
tindakan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Tujuan komunikasi interpersonal dalam
konseling bermacam – macam, diantaranya :
1. Mengungkapkan perhatian pada orang lain
Dalam hal ini bidan berkomunikasi dengan
cara menyapa, tersenyum, melambaikan tangan,
membungkukan badan, dan menanyakan kabar
kesehatan klien.
2. Menemukan diri sendiri
Artinya bidan melakukan komunikasi karena
ingin mengetahui dan mengenali karakteristik diri
pribadi berdasarkan informasi dari orang lain.
3. Menemukan dunia luar
Dengan komunikasi ini, diperoleh kesempatan
untuk mendapatkan berbagai informasi yang actual.
Misalnya saat bidan memberikan informasi tentang
program keluarga berencana sehingga klien dapat
mengambil keputusan yang tepat dalam mengikuti
program KB.
4. Membangun dan memelihara hubungan yang harmonis
Sebagai makhluk sosial, salah satu kebutuhan
setiap orang yang paling dasar adalah membentuk
dan memelihara hubungan baik dengan orang lain.
5. Mempengaruhi sikap dan tingkah laku
Dalam prinsip komunikasi, ketika klien
menerima pesan dan informasi, dengan demikian
klien telah mendapatkan pengaruh dari proses
komunikasi.
6. Menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi
Komunikasi interpersonal dapat menghilangkan
kerugian akibat salah komunikasi dan salah
interprestasi yang terjadi antara bidan dan klien.
Mengapa? Karena dengan komunikasi interpersonal
dapat dilakukan pendekatan secara langsung,
menjelaskan berbagai pesan yang rawan
menimbulkan kesalahan interprestasi.
7. Memberikan bantuan
Dengan komunikasi interpersonal, maka bidan
dapat memberikan bantuan kepada klien yang
memerlukan bantuan dengan tujuan membantu klien
memecahkan masalahnya.

Faktor penghambat komunikasi interpersonal

a. faktor individual
Orientasi cultural ( keterikatan budaya ) merupakan
faktor individual yang dibawa seseorang dalam
melakukan interaksi. Orientasi ini merupakan gabungan
dari :
- Faktor fisik – kepekaan panca indera, usia, gender
- Sudut pandang – nilai – nilai Faktor sosial – sejarah keluarga dan relasi, jaringan sosial, peran dalam masyarakat, status sosial, peran sosial
- Bahasa

b. Faktor – faktor yang berhubungan dengan interaksi
- Tujuan dan harapan terhadap komunikasi
- Sikap terhadap interaksi
- Pembawaan diri seorang terhadap orang lain ( seperti kehangatan, perhatian, dan dukungan )
- Sejarah hubungan

c. Faktor situasional
Percakapan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, situasi
percakapan kesehatan antara bidan dan klien akan berbeda
dengan situasi percakapan antara polisi dengan pelanggar
lalu lintas.

d. Kompetensi dalam melakukan percakapan
Agar efektif, suatu interaksi harus menunjukan perilaku kompeten dari kedua pihak. Keadaan yang dapat menyebabkan putusnya komunikasi adalah :
- Kegagalan menyampaikan informasi penting
- Perpindahan topik bicara yang tidak lancer
- Salah pengertian.

Pengaruh pemahaman diri terhadap proses komunikasi interpersonal
1. Pemahaman diri bertujuan untuk mengetahui dan
mengenal siapakah diri kita. Apakah persepsi anda dengan
orang lain terhadap diri sendiri sama, misalnya mungkin
anda merasa sudah ramah, namun menurut orang lain belum
tentu.
2. Pemahaman diri meliputi pengetahuan tentang siapa saya,
apa kelemahan saya, apa kelebihan saya, bagaimana
peasaan saya, apa keinginan saya, dan sebagainya.
3. Alasan lain pentingnya pemahaman diri adalah karena
bidan bekerja berhadapan dengan berbagai pengalaman dan
kondisi biologis, psikologis dan sosiologis dari kliennya.
4. Bidan perlu memahami bagaimana menghadapi
kecemasan, kemarahan, kesedihan dan kegembiraan klien.
Bidan harus tau bagaimana dirinya sendiri bersikap, apakah
mudah cemas, mudah tersinggung, dan sebagainya sehingga
ia tahu keterbatasan diri sewaktu melayani klien.
5. Bidan yang tidak memahami dirinya sendiri,
kemungkinan akan sulit memahami apa yang dialami klien,
misalnya tidak sesuai dengan nilai – nilai yang dianut bidan,
bidan tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik, karena
kurang menerima klien apa adanya.

Atraksi dalam komunikasi interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap
positif dan daya tarik seseorang. Adanya daya tarik ini membentuk rasa
suka. Rasa suka pada seseorang umumnya membuat orang yang kita
sukai menjadi signifikan bagi kita.

Dalam hubungan dengan atraksi interpersonal ini ada 4 (empat ) teori “ liking “ yang menjelaskan :
1. Reinforcement theory menjelaskan bahwa seseorang
menykai orang lain adalah sebagai hasil belajar.
2. Equity theory menyatakan bahwa dalam suatu hubungan,
manusia selalu cenderung menjaga keseimbangan antara
harga ( cost ) yang dikeluarkan dengan ganjaran ( reward )
yang diperoleh.
3. Exchange theory berpendapat bahwa interaksi sosial di
ibaratkan sebagai transaksi dagang. Jika orang kenal pada
seseorang yang mendatangkan keuntungan ekonomis dan
psikologis, akan lebih disukai.
4. Gain – loss theory berpendapat bahwa orang cenderung
lebih menyukai orang – orang yang menguntungkan bagi kita
dan kurang tertarik pada orang – orang yang merugikan kita.

Hubungan interpersonal
Hakikat dari hubungan interpersonal adalah bahwa
ketika berkomunikasi, kita bukan hanya menyampaikan isi
pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan
interpersonal. Jadi, kita bukan sekedar menentukan isi tetapi
juga relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan
untuk menunjukan hubungan pesan komunikan ini disebut
sebagai metakomunikasi.

Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses
pengolahan pesan ( baik verbal maupun non verbal ) secara
timbal balik terjadi, dan hal ini dinamakan komunikasi
interpersonal. Ketika hubungan interpersonal tumbuh, terjadi
pula kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara para
partisipan yang terlibat.

Apabila dalam hubungan interpersonal terjadi konflik,
akibat yang mungkin terjadi adalah berakhirnya hubungan
interpersonal atau sebaliknya, meningkatnya kualitas
hubungan. R.D.Nye, mengemukakan lima sumber konflik,
yaitu :
1. Kompetisi
2. Dominasi
3. Kegagalan
4. Provokasi
5. Perbedaan nilai

Dalam hubungan interpersonal, akan tumbuh apa yang
dinamakan pola – pola relasional sebagai hasil dari aturan
yang dikembangkan oleh partisipan bagaimana pola – pola
relasional ini berkembang akan tergantung pada
bagaimana komunikasi dilakukan. Ruben ada 5 pola
relasional :
- Suportif dan defensive
- Tergantung ( dependent ) dan tidak bergantung ( independent )
- Kegagalan
- Provokasi
- Perbedaan nilai

Komunikasi kepada masyarakat melalui media massa, cetak, dan sosial
Media massa adalah media yang digunakan untuk
komunikasi massal. Disebut demikian karena sifatnya
yang massal misalnya : pers, radio, film, dan televisi.
1. Pers
Pers dalam arti luas meliputi segala barang yang
dicetak yang ditunjukan untuk publik / umum tertentu,
termasuk juga buku, pamflet, brosur, juga sebagainya.
Kelemahan pers yang pertama adalah tidak adanya
bunyi ( suara ) yang dapat membantu efektifitas
komunikasi. Kelemahan kedua adalah untuk membaca
diperlukan usaha.
2. Radio
Keseluruhan sistem gelombang suara yang
dipancarkan dan stasiun pemancar dan diterima oleh
pesawat penerima di rumah, di mobil, di kapal,
dimana saja. Kelemahan radio adalah bahwa ia tidak
dapat mendemonstrasikan karena layarnya terletak
pada imajinasi pendengar intu sendiri. Namun
kelebihannya terletak pada bunyi – bunyi yang dapat
mendorong pembentukan imajinasi itu, yang terdiri
dari sound effect, musik, dan kata – kata ( dialog ).
3, Film
Keseluruhan dari pita celluloid atau sejenisnya
yang mengandung gambar – gambar yang kemudian
dapat diproyeksikan pada layar.
4. Televisi
Media massa yang memancarkan suara dan gambar atau secara mudah dapat disebut dengan
radio witlipicture atau movie at home.
Dari keempat media massa di atas tampaknya televisi adalah yang paling efektif dan efisien
dalam kondisi sekarang.

Teknik penyebaran informasi kesehatan pada masyarakat melalui media massa, cetak, dan elektronik

1. Media cetak
Dalam komunikasi kesehatan, yang dimaksud dengan media cetak menurut Susilowati (2016)
adalah media yang mengutamakan pesan-pesan visual, biasanya terdiri dari gambaran sejumlah kata,
gambar atau foto dalam tata warna.
Yang termasuk media cetak di antaranya adalah booklet, leaflet, flyer (selebaran), flip chart (lembar
balik), rubrik atau tulisan pada surat kabar atau majalah, poster, tabloid, dan foto yang mengungkapkan informasi kesehatan.

2. Media elektonik
Media elektonik dalam komunikasi kesehatan adalah media yang menyediakan
cakupan yang sangat luas bagi pesan-pesan komunikasi kesehatan.
Media elektronik digunakan untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada khalayak luas secara cepat dengan tujuan untuk menciptakan dan mengembangkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Yang termasuk media elektronik adalah radio, televisi, telegram,short message service
( SMS ), dan telepon.

Terima kasih telah meluangkan waktu nya untuk membaca teman-teman
 semoga bermanfaat untuk kita semua .

Komentar